BANJIR PIDIE JAYA
Merawat Damai Antara Dua Gampong: Normalisasi Krueng Meureudu Cegah Banjir, Jangan Sampai Banjir Konflik
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -
Kabar viral dan mengejutkan datang dari media sosial tiktok yang diunggah akun @ierayana.lambanji, dalam unggahan video tersebut memperlihatkan konflik antar warga gampong Dayah Usen, Kecamatan Meurah Dua dan warga Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, perseteruan itu hendaknya tidak dipandang sebagai pertentangan antara dua gampong, melainkan sebagai ujian kebersamaan dalam menghadapi musibah. Banjir adalah ujian yang datang membawa peringatan agar manusia kembali menata hubungan dengan lingkungan sekitar dan sesama. Ketika sungai berubah arah dan struktur, hati manusia pun diuji apakah akan ikut keruh atau tetap jernih.
Keinginan untuk memperdalam sungai agar tidak meluap adalah niat menjaga keselamatan. Kekhawatiran terhadap dampak pengerukan yang mendekati permukiman juga lahir dari naluri untuk melindungi keluarga dan tanah kelahiran. Dua sikap ini pada hakikatnya berangkat dari tujuan yang sama untuk menghindari mudarat. Maka tidak patut jika perbedaan cara berubah menjadi perpecahan rasa.
Dalam ajaran Islam, setiap perselisihan diperintahkan untuk diselesaikan dengan islah atau perdamaian yang adil dan menenangkan. Tidak boleh ada tindakan yang menimbulkan bahaya bagi pihak lain, karena menjaga keselamatan jiwa dan lingkungan adalah bagian dari amanah. Sungai adalah ciptaan Allah yang mengalir melintasi batas administrasi, ia tidak mengenal sekat gampong, sebagaimana persaudaraan tidak mengenal garis pemisah.
Kehadiran pemerintah daerah di tengah warga seharusnya menjadi peneduh, bukan sekadar saksi dari kegelisahan yang berlarut. Kepemimpinan yang bijak dituntut menghadirkan solusi nyata berbasis kajian teknis dan musyawarah adat. Tanpa keputusan yang jelas dan adil, keresahan akan terus tumbuh dan prasangka akan semakin dalam.
Resolusi terbaik adalah menghentikan sementara aktivitas yang memicu polemik, kemudian membangun forum musyawarah bersama yang melibatkan tokoh adat, tokoh agama, unsur mukim, dan dinas teknis. Setiap keputusan hendaknya dituangkan secara terbuka dan disepakati bersama, agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Transparansi dan kejujuran adalah pintu menuju ketenangan.
Secara hakikat, musibah sering kali datang untuk melembutkan hati yang mulai keras. Banjir mengingatkan bahwa manusia lemah di hadapan kuasa-Nya, dan karena itu tidak pantas menambah kerusakan dengan pertengkaran. Jika sungai dijaga dengan kebersamaan, maka Allah akan menjaga gampong dengan keberkahan.
Sudah saatnya kedua wilayah melihat satu sama lain bukan sebagai lawan, tetapi sebagai saudara yang dipersatukan oleh aliran air yang sama dan ancaman yang sama. Dengan menundukkan ego, mengedepankan musyawarah, dan memohon petunjuk Allah dalam setiap keputusan, konflik ini dapat berubah menjadi jalan menuju kedewasaan bersama.
Merawat sungai berarti merawat kehidupan. Menjaga persaudaraan berarti menjaga masa depan. Ketika hati lebih luas dari pada aliran air, maka kedamaian akan lebih dalam dari pada sungai yang dinormalisasi. (TS/PB)









