Tak Gentar di Atas Mobil Bak Terbuka, Kaum Ibu di Aceh Bersahabat dengan Resiko
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Di sejumlah pelosok Aceh, terutama di Kabupaten Pidie Jaya, Pidie, dan Bireuen, pemandangan ini masih mudah dijumpai. Sebuah mobil bak terbuka melaju kencang membelah jalan desa hingga lintas kabupaten dan jalan nasional. Di atas bak terbuka, belasan kaum ibu duduk berjejer di bibir bak kendaraan, sebagian saling berhadapan, sebagian lagi bersandar pada dinding besi. Tidak ada sabuk pengaman, tidak ada pegangan yang memadai. Hanya keberanian yang menemani perjalanan menuju rumah duka untuk seuneujoh atau menghadiri kenduri syukuran.
Bagi orang yang melihatnya, pemandangan itu sering kali memacu adrenalin. Setiap tikungan tajam, setiap kendaraan yang melintas dari arah berlawanan, hingga setiap hentakan roda di jalan berlubang seakan membuat jantung ikut berdegup lebih cepat. Namun, di atas bak pick up itu, para ibu justru tampak santai. Mereka bercengkerama, tertawa, bahkan sesekali berbagi makanan, seolah sedang berada di ruang tamu, bukan di atas kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Fenomena ini telah menjadi bagian dari budaya transportasi masyarakat pedesaan. Mobil bak terbuka dianggap solusi paling praktis dan murah untuk mengangkut banyak orang sekaligus, terutama ketika menghadiri acara adat yang melibatkan rombongan besar. Bahkan tak jarang, keberanian kaum ibu menaiki bak pick up justru mengalahkan kaum laki-laki. Mereka seakan telah terbiasa menghadapi risiko yang bagi orang lain terasa begitu mengkhawatirkan.
Sayangnya, keberanian itu tidak pernah mampu mengalahkan hukum fisika. Mobil bak terbuka sejatinya dirancang untuk mengangkut barang, bukan manusia. Ketika terjadi pengereman mendadak, tabrakan, atau kendaraan terguling, penumpang di atas bak hampir tidak memiliki perlindungan. Mereka sangat rentan terpental keluar dengan risiko cedera berat hingga kehilangan nyawa.
Tragedi demi tragedi menjadi pengingat pahit. Belum lama ini, kecelakaan maut di Jalur Pantura, Indramayu, Jawa Barat, melibatkan dua mobil pick up dan sebuah truk tronton di Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener. Belasan orang yang berada di atas mobil bak terbuka meninggal dunia dalam insiden tersebut. Peristiwa itu kembali membuka mata bahwa kendaraan yang selama ini dianggap biasa untuk mengangkut penumpang, sesungguhnya menyimpan bahaya yang luar biasa.
Tradisi saling membantu dan menghadiri seuneujoh adalah warisan budaya yang patut dijaga. Namun, perjalanan menuju tempat duka atau kenduri tidak seharusnya berubah menjadi perjalanan mempertaruhkan nyawa. Keberanian memang patut dihargai, tetapi keselamatan harus tetap menjadi prioritas utama. (**)







