Kisah Pilu Keluarga Miskin di Bandar Dua, Pidie Jaya
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Disebuah rumah kayu tua di Gampong Beurasan, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, tersimpan kisah perjuangan sebuah keluarga yang bertahun-tahun berusaha bertahan di tengah keterbatasan. Dinding kayu yang mulai lapuk, tiang-tiang yang miring, lantai yang terlepas, hingga atap yang bocor menjadi saksi bisu perjalanan hidup Safriadi (45) dan istrinya, Erni (45), bersama tiga buah hati mereka. Namun, di tengah kerasnya kehidupan, ujian yang datang silih berganti membuat keluarga ini harus menerima kenyataan pahit, rumah peninggalan orang tua yang selama ini menjadi tempat mereka bernaung kini tak lagi layak ditempati.
Pada Senin pagi, 26 Oktober 2026, awak media mencoba menggali kisah kehidupan keluarga tersebut melalui istrinya Erni, yang sedang menjalankan tugasnya di Kantor Camat Bandar Dua. Selama empat tahun, perempuan berusia 45 tahun itu telah mengabdikan diri sebagai tenaga bakti di kantor kecamatan. Pengabdiannya kepada masyarakat dan negara terus dijalani meski penghasilan yang diterimanya tidak menentu. Erni bukan ASN maupun PPPK paruh waktu. Saat proses rekrutmen, ia mengikuti tes CPNS, namun dia tidak lulus seleksi, sehingga tidak termasuk dalam kategori tenaga PPPK paruh waktu. Ditengah ketidakpastian penghasilan, ia tetap berusaha menjalankan tanggung jawabnya sebagai istri sekaligus ibu bagi ketiga anaknya.
Sementara itu, Safriadi, kepala keluarga yang tercatat dalam kelompok kesejahteraan desil 1, harus menghadapi kenyataan yang jauh lebih berat. Sekitar dua tahun lalu, kecelakaan menyebabkan kedua kakinya mengalami patah tulang. Ia telah menjalani operasi dan kini kondisi kedua kakinya mulai membaik. Namun, pen yang dipasang pada kedua kakinya belum dapat dilepaskan karena keterbatasan biaya transportasi dan pendampingan selama perjalanan untuk mendapatkan pelayanan medis. Sementara, biaya tindakan operasi pelepasan pen ditanggung BPJS Kesehatan. Bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan, persoalannya bukan semata-mata biaya operasi, melainkan bagaimana memenuhi kebutuhan untuk mencapai rumah sakit dan mendampingi Safriadi menjalani pengobatan.
Sebelum kecelakaan itu terjadi, Safriadi mengandalkan tenaga dan keringatnya untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai buruh harian di kebun milik orang lain, menerima upah sesuai pekerjaan yang didapatkan. Pekerjaan tersebut menjadi salah satu sumber penghidupan keluarganya. Namun, kondisi kedua kaki yang belum sepenuhnya pulih membuatnya tak lagi mampu bekerja maksimal, apalagi melakukan pekerjaan berat seperti dahulu. Ketika kemampuan mencari nafkah semakin terbatas, kebutuhan hidup tetap berjalan. Di satu sisi, ada seorang ayah yang ingin kembali bekerja dan menafkahi keluarganya, disisi lain, kondisi fisiknya menjadi penghalang yang tak mudah ia lewati.
Rumah warisan peninggalan almarhum orang tua Safriadi yang selama bertahun-tahun menjadi tempat keluarga itu membangun kehidupan kini juga tak mampu lagi memberikan rasa aman. Sejumlah tiang kayu mulai lapuk dan miring, lantai papan terlepas, sementara bagian bawah rumah memiliki satu kamar berlantai tanah. Atap yang bocor semakin menambah buruk kondisi tempat tinggal tersebut. Rumah itu bukan sekadar bangunan tua, melainkan tempat keluarga tersebut menyimpan kenangan, membesarkan anak-anak, dan menggantungkan harapan. Namun, ketika kondisi bangunan semakin mengkhawatirkan, mereka terpaksa mengambil keputusan sulit untuk tidak lagi tinggal bersama di rumah itu.
Kini, Erni bersama ketiga anaknya terpaksa menumpang di rumah orang tuanya di kawasan Simpang Tambue, Samalanga. Sementara Safriadi tinggal menumpang di rumah kakaknya. Suami, istri, dan anak-anak yang semestinya berkumpul dibawah satu atap kini harus menjalani kehidupan secara terpisah. Bukan karena mereka ingin berjauhan, melainkan karena keadaan memaksa. Bagi sebuah keluarga, rumah bukan hanya tempat berteduh dari hujan dan panas, tetapi juga ruang untuk berbagi cerita, menguatkan satu sama lain, serta membesarkan anak-anak dengan rasa aman. Ketika rumah tak lagi layak dihuni, sebagian dari kehidupan mereka pun seolah ikut tercerai-berai.
Keuchik Gampong Beurasan, Suhaimi, membenarkan kondisi kehidupan keluarga Safriadi. Menurutnya, keluarga tersebut termasuk kelompok desil 1 dan layak mendapatkan perhatian serta bantuan rumah. Ia menjelaskan, sebelum mengalami kecelakaan, Safriadi bekerja sebagai buruh harian di kebun milik warga. Namun, setelah kedua kakinya patah, kemampuan Safriadi untuk bekerja menjadi sangat terbatas. Kondisi tersebut semakin mempersempit ruang geraknya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, terlebih ketika rumah yang selama ini mereka tempati juga sudah tidak layak huni.
Keuchik Suhaimi bersama keluarga Safriadi berharap pemerintah kabupaten dan pihak-pihak yang memiliki kepedulian sosial dapat memberikan bantuan nyata, terutama berupa rumah layak huni. Selain itu, mereka juga berharap adanya dukungan modal usaha agar Safriadi dapat merintis usaha kecil, seperti membuka kios di kampungnya. Dengan usaha tersebut, ia diharapkan tetap memiliki kesempatan memperoleh penghasilan tanpa harus kembali melakukan pekerjaan berat di kebun orang yang lokasinya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Bantuan modal usaha bukan sekadar pemberian materi, melainkan peluang bagi Safriadi untuk kembali berdiri, memulihkan kepercayaan dirinya, dan menjalankan perannya sebagai kepala keluarga sesuai kemampuan fisiknya.
Kisah Safriadi dan Erni menjadi pelajaran berharga, bahwa kemiskinan bukan hanya tentang kurangnya penghasilan, tetapi juga tentang terbatasnya pilihan ketika musibah datang. Ketika kesehatan terganggu, pekerjaan terhenti, dan tempat tinggal tak lagi aman, keluarga yang rentan membutuhkan lebih dari sekadar simpati. Mereka membutuhkan perhatian, akses pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau, hunian yang layak, serta kesempatan untuk membangun kembali kehidupan secara mandiri. Status desil 1 yang melekat pada keluarga ini menjadi salah satu petunjuk kerentanan sosial mereka, sekaligus alasan agar kondisi dan kebutuhan mereka mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Dibalik rumah kayu yang lapuk itu, Safriadi, Erni, dan ketiga anak mereka masih menyimpan harapan untuk memiliki rumah yang aman untuk berkumpul kembali, memperoleh kesempatan berobat hingga tuntas, dan menjalani kehidupan tanpa terus-menerus dihantui keterbatasan. Mereka tidak meminta kemewahan. Mereka hanya berharap memiliki tempat tinggal yang layak dan kesempatan untuk mencari nafkah dengan cara yang sesuai dengan kondisi kesehatan Safriadi. Kini, harapan itu menanti uluran tangan dan kepedulian bersama agar keluarga tersebut dapat kembali membangun kehidupan dibawah satu atap, bukan lagi terpisah oleh keadaan. (**)






