Selamat Hari Jadi Pidie Jaya ke 19: Bang Gade Salam dan Denyut Kejayaan Negeri Japakeh
OPINI - Usia ke-19 Kabupaten Pidie Jaya menjadi lebih dari sekadar hitungan tahun perjalanan sebuah daerah. Ia adalah jejak sejarah, cerita perjuangan, dan potret tentang bagaimana sebuah kabupaten muda pernah tumbuh dengan penuh optimisme. Di tengah gegap gempita perayaan HUT tahun ini, ingatan masyarakat kembali tertuju kepada satu nama yang begitu melekat dalam denyut pembangunan daerah, Drs. M. Gade Salam, sosok yang dikenal luas sebagai Bang Gade Salam, Bapak Pembangunan Pidie Jaya.
Menyebut nama Bang Gade Salam, masyarakat seperti diajak kembali ke masa awal lahirnya Kabupaten Pidie Jaya. Masa ketika semangat membangun begitu terasa di setiap sudut daerah. Kala itu, Pidie Jaya masih merangkak sebagai kabupaten baru hasil pemekaran. Banyak keterbatasan, banyak tantangan, tetapi juga menyimpan harapan besar. Di tengah kondisi itu, Bang Gade Salam hadir membawa energi perubahan. Ia bukan sekadar pemimpin administratif, melainkan motor penggerak lahirnya identitas daerah.
Salah satu langkah monumental yang hingga kini dikenang adalah keberaniannya membangun pusat pemerintahan di Cot Trieng. Keputusan itu pada masanya bukan perkara sederhana. Namun Bang Gade Salam memiliki pandangan jauh ke depan. Ia memahami bahwa sebuah daerah harus memiliki pusat pemerintahan yang kuat sebagai simbol kemandirian dan arah masa depan. Hari ini, kawasan tersebut tumbuh menjadi jantung birokrasi Pidie Jaya, membuktikan bahwa visi besar memang lahir dari keberanian mengambil keputusan.
Di era kepemimpinannya, pembangunan bergerak cepat dan terasa nyata. Jalan-jalan mulai terbuka, fasilitas pemerintahan berdiri, dan wajah daerah perlahan berubah. Salah satu karya yang paling membekas adalah jembatan layang yang kini menjadi landmark kebanggaan masyarakat. Bangunan itu bukan hanya proyek infrastruktur biasa, tetapi simbol cara berpikir modern seorang pemimpin yang ingin daerahnya tampil maju dan berbeda. Bang Gade Salam seolah ingin mengirim pesan bahwa kabupaten muda pun bisa bermimpi besar.
Menariknya, di balik ketegasan dan visi pembangunannya, Bang Gade Salam tetap dikenal sebagai sosok sederhana dan dekat dengan rakyat. Ia hadir bukan hanya di kantor pemerintahan, tetapi juga di tengah masyarakat. Dari warung kopi hingga pertemuan warga, namanya akrab diperbincangkan sebagai pemimpin yang mudah dijumpai dan mau mendengar langsung suara rakyat. Kedekatan itulah yang membuat masyarakat merasa memiliki pemimpin, bukan sekadar dipimpin.
Latar belakangnya sebagai seorang guru juga membentuk karakter kepemimpinannya yang tenang namun penuh arah. Ia memahami bahwa membangun daerah tidak cukup dengan kemegahan fisik semata, tetapi juga membutuhkan pembangunan pola pikir masyarakat. Dalam banyak kesempatan, Bang Gade Salam dikenal gemar memberi motivasi dan semangat kepada generasi muda agar ikut terlibat membangun daerahnya sendiri. Ia percaya bahwa masa depan Pidie Jaya ada di tangan anak-anak mudanya.
Sebagai politisi senior Partai Persatuan Pembangunan dan mantan anggota DPR Aceh, Bang Gade Salam juga memiliki jaringan dan pengalaman politik yang kuat. Namun kekuatan terbesarnya bukan sekadar pada pengalaman itu, melainkan pada kemampuannya menerjemahkan kekuasaan menjadi kerja nyata. Ia tidak larut dalam simbol-simbol kekuasaan, tetapi fokus membangun pondasi daerah yang kala itu baru berdiri. Karena itu, hingga hari ini, banyak masyarakat masih menyebut era kepemimpinannya sebagai salah satu masa paling berkesan dalam sejarah awal Pidie Jaya.
Di sektor olahraga, Bang Gade Salam juga meninggalkan jejak yang sulit dilupakan. Ia memahami bahwa sepak bola bukan hanya permainan, tetapi ruang pemersatu masyarakat dan wadah pembinaan generasi muda. Hampir setiap kecamatan memiliki tim sepak bola, sementara stadion di Rungkom dibangun sebagai simbol semangat kebersamaan dan pembinaan talenta daerah. Di masa itu, geliat olahraga terasa hidup, menjadi bagian dari denyut sosial masyarakat Bumoe Japakeh.
Tak hanya olahraga, perhatian terhadap pertanian dan perikanan juga menjadi fokus penting. Bang Gade Salam sadar bahwa kekuatan utama Pidie Jaya berada pada masyarakat akar rumput. Karena itu, pembangunan tidak boleh hanya terpusat di kota, tetapi harus menyentuh petani dan nelayan yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Cara berpikir inilah yang membuat pembangunan pada masanya terasa dekat dengan kebutuhan rakyat.
Kini, ketika Pidie Jaya memasuki usia ke-19, semangat Bang Gade Salam terasa relevan untuk kembali dihidupkan. Daerah ini membutuhkan keberanian bermimpi besar seperti yang pernah dicontohkan beliau. Kepemimpinan yang bekerja dengan visi, membangun dengan hati, dan hadir bersama rakyat. Sebab sejarah telah membuktikan, kejayaan sebuah daerah lahir dari pemimpin yang tidak hanya ingin dikenang karena jabatan, tetapi karena karya dan pengabdiannya untuk masyarakat. (TS)








