03 Mei 2026
Budaya

Tradisi Ranub dalam Adat dan Budaya Masyarakat Aceh

Foto : Dok. Google Image | LIPUTAN GAMPONG NEWS

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDPada masa tempoe doeloe, ranub bukan sekadar kunyahan, melainkan denyut nadi keseharian orang Aceh. Dari gubuk sederhana hingga ke dalam istana raja, ranub hadir sebagai cemilan sekaligus simbol penghormatan. Ia bukan hanya mengisi mulut, tapi juga memuliakan tamu, mengikat silaturahmi, dan menghidupkan adat peumulia jamee yang begitu dijunjung tinggi di Tanoh Rencong.

Ranub diracik dengan penuh rasa dan makna. Daun sirih menjadi pembungkusnya, dipadukan dengan pinang, kapur, boh ceuko, dan gambir, lalu dikunyah perlahan hingga menyatu di lidah. Orang tua dulu percaya, pajoh ranub mampu menguatkan gigi dan mengharumkan napas. Namun lebih dari itu, ranub adalah simbol kehangatan yang tak bisa digantikan oleh sekadar makanan ringan modern.

Di Aceh, ranub memiliki ragam rasa dan tujuan. Ada ranub manis yang diracik dengan pinang masak, kencur, dan gula, menghadirkan rasa legit yang akrab di lidah. Ada pula ranub original, yang lebih kuat dengan campuran pinang, kapur, gambir. Sementara ranub tanpa rasa disajikan polos sebagai penghormatan sederhana kepada tamu yang datang.

Lebih dalam lagi, ranub hidup dalam setiap denyut adat. Dalam prosesi pernikahan, dikenal ranub kong haba sebagai tanda lamaran dari pihak keluarga pria kepada dara baro. Lalu ada ranub gaca yang hadir pada malam berinai, mengiringi langkah awal kehidupan rumah tangga. Ranub bukan hanya pelengkap, melainkan bagian sakral dari perjalanan hidup masyarakat Aceh.

Tak lengkap rasanya menyebut ranub tanpa ranup lampuan. Sirih yang ditata indah dalam batee (puan) menjadi lambang kemuliaan tamu. Dari tradisi ini lahir tarian heroik yang kini dikenal sebagai "tarian rabub lampuan," sebuah pertunjukan yang tak hanya memanjakan mata, tapi juga menghidupkan kembali ruh adat Aceh di panggung dunia.

Batee ranub sendiri memiliki ragam bentuk, seperti cerana dan puan yang digunakan sebagai wadah penyajian. Ia bukan sekadar tempat, tetapi simbol estetika dan penghormatan. Setiap lipatan daun sirih yang tersusun rapi di dalamnya adalah bahasa diam yang menyampaikan rasa hormat dan kemuliaan.

Namun, sering waktu dan perubahan zaman perlahan menggerus kebiasaan itu. Ranub yang dulu menjadi teman sehari-hari kini mulai jarang dijumpai. Ia bertahan di tangan segelintir orang tua yang masih setia merawat kenangan. Generasi muda, yang tumbuh bersama gawai dan gaya hidup modern, mulai asing dengan rasa getir-manis yang dulu begitu akrab.

Pada era 1990-an, ranub mameh begitu mudah ditemui. Di sekitar pasar Aceh dan Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, para nyak nyak penjual ranub bersahutan menawarkan dagangan mereka. “Piyoh-piyoh na ranub nyoe pat hai!” seru nyak-nyak penjual sirih, menyapa setiap orang yang melintas, menghadirkan suasana pasar yang hidup dan penuh kehangatan.

Ranub juga pernah menjadi media undangan. Sebelum kertas cetak dan pesan digital whatsApp, orang Aceh membawa ranub sebagai tanda ajakan menghadiri hajatan. Sebuah simbol namun sarat makna, bahwa undangan bukan sekadar informasi, melainkan penghormatan yang dibawa dengan rasa dan tradisi.

Kini, undangan telah beralih ke layar ponsel dan kertas elegan. Namun, di tengah perubahan itu, tarian ranub lam puan tetap hidup dalam ingatan dan perayaan budaya. Bahkan di negeri jauh, diaspora Aceh di Eropa dan belahan negara Skandinavia masih menghadirkan dalam pesta pernikahan mereka. Di tanah asing, ranub menjelma jadi rindu, mengikat hati pada kampung halaman, menjaga agar adat tetap hidup, walau zaman terus berjalan. (**)