Tanggul Ambruk, Wakil Bupati Hasan Basri Berdiri di Garis Depan Memperjuangkan Keselamatan Rakyat!
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Setahun setelah dihantam banjir bandang, luka masyarakat Gampong Dayah Usen dan Gampong Meunasah Mancang, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, kembali terbuka. Hujan deras yang mengguyur kawasan hulu Sungai Krueng Meureudu kembali menghadirkan ancaman yang sama. Banjir yang menerjang pada malam kemarin bukan sekadar membawa derasnya air, tetapi juga menghadirkan ketakutan bagi warga yang belum sepenuhnya pulih dari trauma bencana setahun silam. Tanggul dan tebing sungai yang sebelumnya telah mendapat penanganan dari BNPB pusat melalui penimbunan tanah, kini kembali roboh diterjang derasnya arus.
Runtuhnya tanggul tersebut bukan persoalan kecil. Aliran sungai bahkan membentuk jalur baru yang membelah kawasan Gampong Dayah Usen. Gelombang air bah kemudian meluas ke Gampong Meunasah Mancang hingga Gampong Pante Beureune. Air deras menerobos permukiman dan melintasi badan jalan desa, membuat masyarakat di tiga gampong dilanda kepanikan. Di tengah situasi itu, satu pertanyaan kembali menggema: sampai kapan masyarakat di kawasan rawan bencana ini harus hidup dalam bayang-bayang banjir yang terus berulang?
Di tengah kecemasan warga, Wakil Bupati Pidie Jaya, Hasan Basri, turun langsung ke lokasi bencana. Bersama Babinsa dan tokoh masyarakat, ia menyaksikan sendiri kondisi tanggul yang kembali ambruk serta ancaman aliran sungai yang kini membelah Gampong Dayah Usen. Kehadirannya bukan sekadar kunjungan seremonial untuk melihat dampak bencana, melainkan upaya memastikan bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat benar-benar terlihat dan didengar oleh para pengambil kebijakan. Hasan Basri memilih berdiri di tengah persoalan rakyat, menyentuh langsung akar masalah yang selama ini menjadi kekhawatiran warga di kawasan tersebut.
Dari lokasi itulah, Hasan Basri menyampaikan sikap tegas kepada pemerintah pusat. Ia meminta agar penanganan bencana di Pidie Jaya tidak dilakukan setengah hati atau sekadar menggugurkan kewajiban. Menurutnya, kawasan Dayah Usen merupakan zona merah yang kerap dilintasi arus deras ketika hujan mengguyur wilayah hulu. Karena itu, sejak awal ia telah mengingatkan agar penanganan tebing dan tanggul sungai tidak hanya mengandalkan penimbunan tanah. Namun, penanganan yang sebelumnya dilakukan melalui penimbunan tanah oleh BNPB kini kembali menunjukkan kerentanannya setelah diterjang banjir.
Bagi Hasan Basri, bencana yang berulang seharusnya menjadi pelajaran penting bagi semua pihak. Penanganan kawasan rawan banjir tidak boleh hanya berorientasi pada tindakan darurat, tetapi harus menyentuh solusi yang lebih permanen, terukur, dan sesuai dengan karakter aliran sungai. Di hadapan kondisi tanggul yang roboh, ia secara lugas dan tegas meminta Kementerian Pekerjaan Umum dan BNPB segera mengambil langkah konkret untuk menangani kembali tebing sungai yang membelah Gampong Dayah Usen. Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya badan jalan, lahan masyarakat, ataupun infrastruktur desa, melainkan keselamatan dan masa depan ribuan warga yang tinggal di kawasan terdampak.
Sikap tegas tersebut memperlihatkan bahwa Hasan Basri memahami persoalan kebencanaan bukan hanya dari laporan di atas meja. Ia mengenal kondisi lapangan, memahami urgensi penanganan, dan mengetahui bahwa setiap keterlambatan dapat membawa konsekuensi yang jauh lebih besar. Pengalaman panjangnya dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami Aceh pada 2006 silam menjadi salah satu bekal penting bagi dirinya. Kala itu, Hasan Basri turut terlibat langsung dalam proses penyusunan blueprint rehabilitasi dan rekonstruksi hingga tahapan pembangunan kembali wilayah terdampak tsunami. Pengalaman itulah yang membentuk pemahamannya bahwa membangun kembali daerah yang dilanda bencana membutuhkan perencanaan matang, keberanian mengambil keputusan, dan kesungguhan dalam pelaksanaan.
Gaya kepemimpinan seperti inilah yang dibutuhkan masyarakat Pidie Jaya saat ini yang sedang dilanda bencana, pemimpin yang tidak berjarak dengan rakyat, tidak hanya hadir ketika keadaan baik-baik saja, tetapi juga berdiri bersama masyarakat ketika bencana datang mengancam. Seorang wakil kepala daerah yang berani menyampaikan persoalan secara terbuka kepada pemerintah pusat, sekaligus memahami bahwa keselamatan rakyat harus ditempatkan di atas kepentingan administratif. Kehadiran Hasan Basri di Dayah Usen menjadi pengingat bahwa suara masyarakat di pelosok daerah tidak boleh tenggelam di tengah panjangnya birokrasi penanganan bencana.
Kini, harapan masyarakat Dayah Usen, Meunasah Mancang, dan Pante Beureune tertuju kepada pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum dan BNPB. Jangan menunggu tanggul kembali roboh, rumah warga terendam, atau korban jiwa berjatuhan untuk mengambil tindakan yang lebih serius. Pidie Jaya tidak membutuhkan penanganan yang hanya bertahan sampai datangnya banjir berikutnya. Pidie Jaya membutuhkan solusi yang kuat, tepat, dan berkelanjutan. Sebab, di balik tanggul yang roboh itu ada kehidupan masyarakat yang harus dilindungi, ada anak-anak yang ingin tidur tanpa ketakutan, dan ada keluarga yang mendambakan rasa aman di tanah kelahirannya sendiri. Suara tegas Hasan Basri dari Dayah Usen sejatinya adalah jeritan rakyat yang meminta satu hal sederhana kepada pemerintah pusat: "jangan biarkan kami terus menjadi korban dari bencana yang sama." (**)






