Gema Maulid Raya Guncang Pidie Jaya, Perkuat Syiar Islam dan Semangat Bangkit Pascabencana
Foto : Bupati Pidie Jaya, H Sibral Malasyi bersama para Forkompinda dan jajaran lainnya berjalan mengunjungi stand semua kecamatan dalam pelaksanaan Maulid Raya Pidie Jaya 2026 | LIPUTAN GAMPONG NEWS
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Lantunan selawat dan zikir Barzanji menggema dari delapan panggung asal dari kecamatan se-Kabupaten Pidie Jaya di kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Cot Trieng, Meureudu, Kamis (29/10/2026).
Suasana religius mewarnai perhelatan Maulid Raya Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026 Masehi yang tidak hanya menjadi momentum mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga mempererat persaudaraan dan membangkitkan semangat masyarakat untuk bangkit pascabencana hidrometeorologi.
Dipusatkan di Gedung MTQ dan sejumlah lokasi lainy, kegiatan ini melibatkan unsur pemerintah daerah, Forkopimda, Alim ulama, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen masyarakat.
Semarak Maulid semakin terasa dengan penampilan zikir Barzanji dan berbagai kegiatan antarkecamatan. Setiap panggung menampilkan kekhasan tradisi keagamaan, sekaligus menjadi ruang kebersamaan bagi masyarakat dari delapan kecamatan.
Bupati Pidie Jaya, H. Sibral Malasyi, MA., S.Sos., ME., turut meninjau sejumlah stan kecamatan yang menampilkan kreativitas dan potensi masing-masing wilayah.
Bagi masyarakat Pidie Jaya, Maulid Raya tahun ini memiliki makna tersendiri. Di tengah proses pemulihan akibat bencana hidrometeorologi, kegiatan keagamaan menjadi ruang untuk menguatkan batin, menumbuhkan optimisme, dan menjaga semangat persaudaraan.
Bupati Sibral Malasyi menegaskan, Maulid Nabi tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Nilai keteladanan Rasulullah SAW harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui kepedulian, persatuan, dan semangat gotong royong.
"Negeri Japakeh tidak boleh kehilangan harapan," ungkapnya.
Menurutnya, kebangkitan Pidie Jaya membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Pemerintah harus terus bekerja, masyarakat saling menguatkan, dan seluruh komponen daerah menjaga semangat kebersamaan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Ia juga berharap peringatan Maulid menjadi momentum memperkuat ukhuwah Islamiyah, kesabaran, kepedulian terhadap sesama, serta semangat membantu masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.
Sebab, pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali infrastruktur dan fasilitas umum, tetapi juga mengembalikan ketenteraman, semangat, dan harapan masyarakat untuk menatap masa depan.
Selain menjadi ajang syiar Islam, Maulid Raya 1448 H/2026 M dimeriahkan berbagai perlombaan antarkecamatan. Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya melestarikan tradisi keagamaan, memperkenalkan potensi daerah, dan mempererat hubungan antarmasyarakat.
Dalam lomba Zikir Barzanji, Kecamatan Bandar Dua meraih juara pertama, disusul Trienggadeng sebagai juara kedua dan Meurah Dua di posisi ketiga. Sementara juara harapan diraih Kecamatan Meureudu, Pante Raja, dan Jangka Buya.
Pada lomba dekorasi stan, Kecamatan Meureudu meraih juara pertama, Meurah Dua juara kedua, dan Trienggadeng juara ketiga. Adapun juara harapan diraih Bandar Dua, Pante Raja, dan Bandar Baru.
Sementara itu, lomba memasak menempatkan Kecamatan Meureudu sebagai juara pertama, Bandar Dua juara kedua, dan Jangka Buya juara ketiga. Juara harapan diraih Ulim, Bandar Baru, dan Meurah Dua.
Berbagai perlombaan tersebut menunjukkan antusiasme kecamatan dalam menyukseskan Maulid Raya. Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan ini menjadi wadah menampilkan kreativitas, memperkenalkan kekhasan wilayah, dan membangun semangat persaingan yang sehat.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW mengandung pesan penting tentang keteladanan akhlak Rasulullah dalam kehidupan bermasyarakat. Kasih sayang, persaudaraan, kepedulian terhadap kaum lemah, kesabaran, dan semangat membantu sesama merupakan nilai yang semakin relevan ketika masyarakat menghadapi ujian bencana.
Melalui Maulid Raya 1448 H ini, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya berharap tradisi keagamaan terus tumbuh menjadi kekuatan sosial yang menyatukan masyarakat.
Gema selawat diharapkan tidak hanya menghidupkan suasana perayaan, tetapi juga menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW melalui pengamalan sunah dan keteladanan akhlaknya.
Dengan memperkuat ukhuwah Islamiyah, gotong royong, dan kepedulian sosial, masyarakat Pidie Jaya diharapkan mampu melewati masa pemulihan pascabencana dengan penuh optimisme.
Sebab, membangun kembali Pidie Jaya bukan sekadar memulihkan daerah yang terdampak bencana, melainkan juga merawat persaudaraan, menguatkan keimanan, dan menghidupkan kembali harapan masyarakat. (*)






