Reni Nuryanti: Do Da Idi dan Syair Prang Sabi Menyimpan Kekuatan Psikologis dan Keteguhan Perempuan Aceh
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Dibalik lantunan Do Da Idi yang menenangkan dan syair perjuangan Prang Sabi yang membangkitkan semangat, tersimpan nilai-nilai kearifan lokal Aceh yang berperan penting dalam membangun ketangguhan psikologis perempuan, khususnya para penyintas konflik. Warisan budaya yang berpadu dengan nilai-nilai keislaman tersebut tidak hanya menjadi identitas masyarakat Aceh, tetapi juga menyimpan kekuatan batin untuk menghadapi tekanan, mengelola pengalaman traumatis, serta menata kembali kehidupan setelah melewati masa-masa sulit.
Koordinator Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Samudra (UNSAM), Reni Nuryanti, S.Pd., M.A., menjelaskan bahwa kemampuan perempuan penyintas konflik Aceh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan berkaitan erat dengan tiga aspek psikologis, yakni resiliensi, psychological well-being, dan mekanisme coping. Ketiganya saling berkaitan dalam membantu seseorang menerima pengalaman masa lalu, mengelola tekanan emosional, serta menemukan kembali makna dan tujuan hidup.
Menurut Reni, resiliensi merupakan kemampuan seseorang untuk bangkit setelah mengalami kesulitan. Sementara itu, psychological well-being berkaitan dengan penerimaan diri dan kemampuan menjalani kehidupan secara bermakna. Adapun mekanisme coping merupakan cara individu menghadapi dan mengelola tekanan yang dialami. Perpaduan ketiga aspek tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan bertahan hidup (survival ability) sekaligus mendukung proses pemulihan psikologis.
Ia menuturkan, pemulihan psikologis perempuan Aceh juga tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai budaya dan ajaran Islam yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber nilai yang menghadirkan ketenangan, menumbuhkan harapan, dan memperkuat batin ketika seseorang menghadapi situasi penuh tekanan.
Salah satu tradisi yang memiliki makna mendalam adalah Do Da Idi, yakni lagu pengantar tidur yang biasa dilantunkan para ibu kepada anak-anaknya. Dibalik iramanya yang lembut dan menenangkan, tersimpan doa, shalawat, harapan akan keselamatan, serta pesan-pesan moral. Dalam situasi konflik, lantunan tersebut menjadi cara para ibu menghadirkan rasa aman bagi anak-anak sekaligus menjaga ketenangan diri di tengah ketidakpastian dan ketakutan.
“Do Da Idi bukan sekadar lagu pengantar tidur. Ketika dinyanyikan di tengah situasi yang penuh ketakutan, lantunan tersebut menghadirkan doa, shalawat, ketenangan, dan nilai keberanian. Hal ini menjadi salah satu cara perempuan Aceh dalam mengurangi trauma dan menjaga kekuatan psikologis,” ungkap Reni.
Selain Do Da Idi, Syair Prang Sabi juga menjadi warisan budaya yang sarat dengan nilai perjuangan, keberanian, kesabaran, keteguhan hati, pengorbanan, serta keyakinan kepada Allah SWT. Nilai-nilai tersebut turut membentuk karakter masyarakat Aceh dan menjadi sumber kekuatan moral dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Bagi perempuan penyintas konflik, warisan budaya ini dapat menghadirkan makna, menumbuhkan semangat, dan memberikan penguatan dalam menjalani proses pemulihan.
Lebih lanjut, Reni menilai kearifan lokal Aceh memiliki potensi besar sebagai sumber daya psikososial yang mendukung pemulihan pascakonflik.
Tradisi syair, dan nilai-nilai religius dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan harapan, mengelola tekanan emosional, serta menjaga kesejahteraan psikologis. Nilai-nilai tersebut juga tetap relevan bagi generasi muda sebagai bekal membangun karakter tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan masa kini. “Kearifan lokal perlu terus dilestarikan dan dipahami sebagai sumber pengetahuan yang memiliki nilai penting dalam kehidupan. Didalamnya terdapat pelajaran tentang bagaimana seseorang dapat bertahan, bangkit, dan berkembang setelah menghadapi masa-masa sulit,” tutup Reni.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa warisan budaya Aceh memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar tradisi yang diwariskan antar generasi. Do Da Idi dan Syair Prang Sabi menjadi gambaran bagaimana budaya dan nilai-nilai keagamaan dapat berkontribusi dalam membangun ketahanan psikologis, khususnya bagi perempuan penyintas konflik. Pelestarian keduanya tidak hanya penting untuk menjaga identitas budaya Aceh, tetapi juga untuk merawat nilai-nilai keteguhan, harapan, dan kekuatan hidup yang relevan bagi generasi sekarang maupun mendatang. (**)






