Sepucuk Surat Umar Bin Khattab untuk Sungai Nil, Kisah tentang Tauhid yang Menghapus Tradisi Tumbal
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Di balik panorama Sungai Nil yang membentang tenang dalam cahaya senja, tersimpan sebuah kisah yang telah lama hidup dalam literatur Islam. Kisah itu berkaitan dengan Khalifah Umar bin Khattab dan sepucuk surat yang disebut pernah dikirimkan kepada Sungai Nil ketika aliran sungai tersebut mengalami kekeringan pada masa pemerintahan Islam di Mesir.
Kisah tersebut bermula ketika masyarakat Mesir pada masa itu menghadapi persoalan setelah Sungai Nil tidak mengalir sebagaimana biasanya. Dalam sejumlah riwayat, masyarakat disebut masih mengenal tradisi lama berupa pengorbanan seorang gadis untuk sungai. Gubernur Mesir, Amr bin al-Ash, menolak tradisi tersebut karena bertentangan dengan ajaran Islam, kemudian menyampaikan persoalan itu kepada Umar bin Khattab.
Umar kemudian dikisahkan mengirimkan surat kepada Amr bin al-Ash, disertai secarik tulisan yang diminta untuk dilemparkan ke Sungai Nil. Isi surat itu pada intinya menegaskan bahwa sungai tidak memiliki kehendak dan kekuasaan sendiri. Jika Nil mengalir atas kehendaknya sendiri, ia tidak perlu mengalir; tetapi jika Allah yang memerintahkannya mengalir, maka kepada Allah-lah manusia memohon agar sungai tersebut kembali mengalir.
Dalam versi kisah yang populer, setelah surat tersebut dilemparkan, Sungai Nil kembali mengalir dan airnya disebut naik hingga 16 hasta. Peristiwa itu kemudian dikenang sebagai momentum berakhirnya tradisi tumbal yang sebelumnya diyakini masyarakat sebagai syarat agar Sungai Nil kembali mengalir.
Namun, ada catatan penting dalam memahami kisah tersebut. Riwayat tentang surat Umar kepada Sungai Nil memang disebut dalam sejumlah karya ulama, tetapi jalur periwayatannya dipersoalkan oleh sebagian ahli. Salah satu kajian secara tegas menilai riwayat kisah tersebut lemah. Karena itu, kisah ini lebih tepat disampaikan sebagai riwayat sejarah yang populer dalam literatur Islam.
Terlepas dari perdebatan mengenai kekuatan sanadnya, pesan moral yang terkandung di dalam kisah tersebut tetap menarik untuk direnungkan: air sungai bukan penguasa kehidupan, dan manusia tidak boleh menggantungkan keselamatan kepada kekuatan selain Allah. Sungai adalah bagian dari ciptaan-Nya, sementara tugas manusia adalah menjaga kehidupan, meninggalkan takhayul, dan menghadapi persoalan dengan keyakinan sekaligus ikhtiar.
Di tengah panorama Sungai Nil yang kini menjadi salah satu ikon Mesir, kisah itu kembali mengingatkan bahwa di balik sebuah sungai besar, ada pelajaran tentang tauhid, keberanian meninggalkan tradisi yang salah, dan keteguhan seorang pemimpin. Ustad Muda Reza Muttaqin melaporkan dari tepi sungai Nil Mesir. (**)






