06 Juli 2026
Daerah

Lewati Dua Kali Musim Tanam, Ratusan Petani Kuta Simpang Menanti Sawah Bebas Lumpur

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDBanjir bandang yang melanda wilayah Pidie Jaya, Kemukiman Kuta Simpang, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, beberapa bulan yang silam masih menyisakan dampak bagi masyarakat tani. Hingga Senin (6/7), hamparan sawah yang sebelumnya menjadi lumbung pangan kini masih tertimbun lumpur tebal akibat bencana hidrometeorologi. Kondisi tersebut membuat ratusan petani belum mampu kembali mengolah lahan mereka.

Diketahui, Kemukiman Kuta Simpang meliputi Gampong Meunasah Jurong, Beuringen, Pante Beureune, Buangan, dan Lueng Bimba menjadi salah satu kawasan yang paling merasakan dampaknya. Sawah-sawah produktif yang selama bertahun-tahun menjadi sumber penghidupan warga berubah menjadi lahan yang tidak lagi bisa ditanami. Akibatnya, petani terpaksa melewatkan dua musim tanam tanpa menghasilkan sebutir gabah pun.

Hendri, salah seorang petani setempat, mengatakan sejak banjir melanda, kehidupan para petani berubah drastis. Lahan yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarga kini tertutup endapan lumpur sehingga tidak memungkinkan untuk ditanami padi. "Selama ini kami hidup dari hasil panen sawah. Sekarang kami sudah dua musim tanam tidak bisa menanam karena sawah masih tertimbun lumpur kiriman banjir bandang," ujarnya.

Menurut Hendri, kesulitan ekonomi semakin terasa karena sebagian petani terpaksa beralih profesi demi memenuhi kebutuhan keluarga. Namun pekerjaan baru yang mereka jalani belum mampu menggantikan penghasilan dari sektor pertanian. Banyak di antara mereka hanya bekerja serabutan dengan pendapatan yang tidak menentu. Bagi masyarakat Kuta Simpang, sawah bukan sekadar lahan, tetapi penyangga utama kehidupan.

Hendri menjelaskan, setiap satu hektare sawah produktif di kawasan tersebut mampu menghasilkan sekitar delapan ton gabah/ha setiap kali panen. Dengan luas lahan produktif diperkirakan mencapai sekitar 150 hektare, kerugian ekonomi yang dialami petani setiap musim tanam menjadi sangat besar. Hilangnya produksi itu bukan hanya berdampak pada pendapatan keluarga petani, tetapi juga ikut mengurangi potensi produksi pangan daerah.

Keluhan senada disampaikan Armia, petani lainnya di Kemukiman Kuta Simpang. Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata agar para petani dapat kembali menggarap sawah mereka. Menurutnya, semakin lama lahan dibiarkan tertutup lumpur, semakin berat pula beban ekonomi yang harus ditanggung masyarakat yang menggantungkan hidup sepenuhnya dari sektor pertanian.

Hendri dan Armia berharap Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya memberikan perhatian serius terhadap pemulihan lahan pertanian pasca bencana. Selain percepatan normalisasi dan pembersihan lumpur di lahan produktif, mereka juga mengusulkan solusi jangka pendek melalui Dinas Pertanian, seperti memfasilitasi petani menanam komoditas palawija, di antaranya jagung atau semangka, apabila kondisi lahan memungkinkan. Langkah tersebut dinilai dapat membantu menjaga roda ekonomi masyarakat sambil menunggu sawah kembali produktif.

Bagi petani, pemulihan pasca bencana tidak cukup hanya berhenti pada penanganan banjir. Lumpur yang masih menimbun ratusan hektare sawah juga harus menjadi prioritas penyelesaian. Hendri menilai pemerintah perlu memikirkan solusi teknis terkait pembuangan material lumpur agar lahan produktif dapat difungsikan kembali. Sebab selama sawah belum bisa ditanami, yang tertimbun bukan hanya tanah pertanian, tetapi juga harapan dan masa depan keluarga-keluarga petani yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan di pedesaan.

Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, melalui Plt. Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Pidie Jaya, M. Nur, SP, M.Si, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah mengusulkan program rehabilitasi lahan sawah yang mengalami kerusakan berat akibat banjir kepada pemerintah pusat. Program tersebut mencakup pembersihan areal persawahan yang tertimbun lumpur banjir sebagai bagian dari upaya pemulihan sektor pertanian, namun pelaksanaan rehabilitasi tersebut direncanakan mulai direalisasikan pada tahun 2027.

Menindaklanjuti aspirasi petani agar lahan terdampak tetap produktif, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya juga telah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk pengembangan tanaman palawija sebagai solusi sementara. Dalam waktu dekat, Dinas Pertanian Aceh akan memfasilitasi bantuan pengolahan lahan serta benih tanaman palawija kepada para petani terdampak. Langkah ini diharapkan dapat menjaga keberlangsungan aktivitas petani dan mendukung pendapatan petani sembari menunggu proses pembersihan sawah dari endapan lumpur yang masih tertimbun akibat banjir. (**)