06 September 2026
Olahraga
ONTELIS PIDIE JAYA

KOPJAY Bangkit : Derit Roda Tua, Semangat yang Tak Menua!

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDDerit roda tua kembali memecah kesunyian pagi di Kota Meureudu. Diantara embun yang perlahan menguap dan matahari yang mulai meninggi, puluhan ontelis berusia senja menunggangi sepeda yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka. Minggu (6/9/) itu, sekitar 20 ontelis legend Komunitas Ontel Pidie Jaya (Kopjay) kembali turun ke jalan, bukan sekadar untuk mengayuh sepeda, tetapi untuk menegaskan bahwa semangat kebersamaan belum pernah benar-benar padam. Bersama Kapolres Pidie Jaya, AKBP Tendri Wardi, mereka menjemput kembali gairah bersepeda yang sempat terhenti setelah musibah banjir bandang menerpa Pidie Jaya.

Pukul 07.30 WIB, Kana Wisma Meureudu menjadi titik mula perjalanan. Sepeda-sepeda tua berjajar dengan karakter masing-masing, seperti para pemiliknya yang datang membawa kisah berbeda. Ketika kayuhan pertama dimulai, rombongan bergerak perlahan melintasi Kota Meureudu, Meunasah Jurong, hingga Simpang 4 Meureudu. Dari sana, mereka menyusuri Jalan Banda Aceh–Medan menuju Keude Ulim. Tak ada kecepatan yang dikejar, tak ada garis finis yang harus ditaklukkan dengan tergesa. Yang dicari hanyalah kebugaran, persahabatan dan kegembiraan dalam sebuah perjalanan sederhana bertajuk “Yooooookkk kita Gowes Santai, Sehat Satu Jam bersama Sepeda KOPJAY BANGKIT.”

Di sepanjang jalan, suasana menjadi semakin akrab. AKBP Tendri Wardi tak mengambil jarak dari rombongan. Ia ikut mengayuh sepeda tua, berbincang dan menyapa anggota Kopjay satu per satu. Sesekali canda terlontar di antara kayuhan. Keringat mulai membasahi wajah, napas menjadi lebih berat, tetapi senyum justru semakin lebar. Di jalanan pagi itu, seragam dan jabatan seakan luruh oleh semangat yang sama. Mereka hanyalah para pesepeda yang sedang menikmati udara pagi dan kebahagiaan sederhana dari putaran pedal.

Perjalanan kemudian berbalik arah. Dari Keude Ulim, rombongan kembali menuju jalan rel kereta api, melintasi Kota Meureudu dan akhirnya kembali ke Kana Wisma. Sekitar pukul 09.00 WIB, perjalanan selama satu setengah jam itu pun berakhir. Namun, bagi Ketua Kopjay Kanda Agus, yang lebih penting dari jarak dan waktu tempuh adalah bagaimana komunitas tersebut kembali menemukan denyut kehidupannya. “Alhamdulillah, dengan kehadiran Pak Kapolres, kita bangkitkan kembali semangat gowes,” ujarnya. Kalimat itu menjadi penanda bahwa Kopjay sedang menata kembali langkah setelah sempat dihantam musibah.

Ada sesuatu yang menarik dari para penggowes pagi itu. Sebagian besar telah berusia di atas 50 tahun. Namun usia tidak membuat mereka memilih duduk diam di rumah. Sebaliknya, mereka masih kuat menaklukkan jalan, tanjakan kecil dan panjangnya rute dengan sepeda ontel kesayangan. AKBP Tendri Wardi pun turut berseloroh tentang pentingnya menjaga kesehatan. “Dengan bersepeda kita akan sehat siang malam,” katanya, sembari mencandai anggota komunitas. Tawa pun pecah. Keringat yang mengucur tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan seperti tanda bahwa tubuh masih diajak bekerja dan kehidupan masih terus bergerak.

Sepeda ontel yang mereka tunggangi memang telah berusia tua. Tetapi justru di situlah pesonanya. Rangka besi, setang klasik, sadel lebar, pedal dan rantai yang berputar dengan suara khas, semuanya seperti membawa para ontelis kembali ke sebuah masa ketika kehidupan berjalan lebih perlahan. Sepeda-sepeda itu bukan sekadar benda tua yang dipelihara agar tetap terlihat indah. Ia adalah kendaraan kenangan, alat pemersatu dan simbol kesetiaan pada sebuah kegemaran yang diwariskan oleh waktu. Di atasnya, para ontelis Pidie Jaya menemukan kembali arti sederhana dari persaudaraan: berangkat bersama, mengayuh bersama dan pulang bersama.

Dan pagi itu, ketika rombongan akhirnya berhenti di Kana Wisma Meureudu, yang tersisa bukan hanya keringat di tubuh dan lelah di kaki. Ada semangat yang kembali menyala. Ada persaudaraan yang kembali dirajut. Ada keyakinan bahwa setelah sebuah musibah, kehidupan tetap harus diteruskan dengan langkah baru. Kopjay mungkin mengendarai sepeda tua, tetapi semangat yang mereka bawa jauh dari kata usang. Sebab roda boleh berderit karena usia, pedal boleh berat karena perjalanan, tetapi semangat manusia tidak pernah mengenal kata tua. Selama masih ada kemauan untuk mengayuh, selalu ada jalan untuk bangkit. (TS)