17 Oktober 2026
Kisah

Istiqamah, Petani Kopi dari Aceh yang Diakui Dunia, Perjuangkan Kopi Lestari dan Suara Perempuan

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Dibalik aroma secangkir kopi yang mendunia, ada perjuangan panjang para petani yang menjaga tanah, merawat tanaman, dan mempertahankan kehidupan dari kebun-kebun di dataran tinggi Aceh. Salah satu sosok yang menghidupkan perjuangan itu adalah Istiqamah, seorang petani kopi perempuan asal tanah gayo, Aceh, yang berhasil membawa suara petani lokal ke panggung global. Namanya masuk dalam daftar 100 pahlawan global, sebuah pengakuan atas peran perempuan dalam memperjuangkan pertanian berkelanjutan dan masa depan industri kopi yang lebih adil.

Istiqamah menerima penghargaan dari Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), Qu Dongyu, dalam acara World Food Forum di Roma, Italia, pada Kamis (15 Oktober). Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusinya dalam mendukung pertanian berkelanjutan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan, bersama 98 perempuan lainnya dari berbagai negara.

“Model pendidikan dan pemberdayaan berbasis komunitas yang menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai tenaga kerja pendukung, melainkan sebagai pengambil keputusan utama dalam rantai pasok kopi, merupakan hal yang sangat penting,” kata Istiqamah.

Bagi Istiqamah, menjadi petani kopi bukan sekadar pekerjaan untuk menghasilkan biji kopi berkualitas. Lebih dari itu, kopi merupakan sumber penghidupan keluarga, penopang ekonomi masyarakat, sekaligus warisan alam yang harus dijaga. Di tengah berbagai tantangan sektor pertanian, ia memilih untuk terus mendorong praktik budidaya yang tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga memperhatikan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan petani.

Perjuangan tersebut dijalankan melalui perannya sebagai petani kopi sekaligus sekretaris koperasi di Aceh. Dalam posisi itu, Istiqamah mewakili kepentingan 980 anggota yang bersama-sama mengelola lebih dari 1.200 hektare lahan kopi. Angka tersebut bukan sekadar gambaran luas perkebunan, melainkan cerminan kehidupan ratusan keluarga yang menggantungkan harapan pada komoditas unggulan Aceh. Melalui koperasi, kepentingan petani dapat diperjuangkan secara kolektif agar mereka memiliki posisi yang lebih kuat dalam rantai pasok kopi.

Salah satu fokus utama Istiqamah adalah mengadvokasi produksi kopi berkelanjutan berbasis agroforestri, yakni sistem pertanian yang memadukan tanaman kopi dengan pepohonan dan vegetasi lain. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem, mempertahankan kesuburan tanah, serta mendukung keberlanjutan kebun dalam jangka panjang. Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, langkah petani seperti Istiqamah menunjukkan bahwa masa depan kopi tidak dapat dipisahkan dari upaya merawat alam.

Namun, perjuangannya tidak berhenti pada persoalan tanah dan tanaman. Istiqamah juga mendorong peningkatan peran perempuan dalam pengambilan keputusan di sepanjang rantai pasok kopi. Baginya, perempuan tidak semestinya hanya berada di balik proses produksi, sementara keputusan penting mengenai harga, pemasaran, dan arah usaha lebih banyak ditentukan pihak lain. Perempuan petani harus memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat, menentukan pilihan, serta memperoleh kesempatan yang setara dalam mengembangkan usaha dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Pengakuan terhadap Istiqamah menjadi semakin bermakna karena ia merupakan salah satu dari dua petani perempuan asal Indonesia yang masuk dalam daftar 100 pahlawan global. Kehadirannya dalam daftar tersebut membawa perhatian pada kontribusi petani perempuan Indonesia yang selama ini bekerja di tengah berbagai tantangan, mulai dari keberlanjutan produksi hingga keterbatasan akses terhadap pengambilan keputusan. Bagi Aceh, pencapaian ini menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus pengingat bahwa perubahan besar dapat berawal dari kebun-kebun kopi yang dirawat dengan ketekunan dan diperjuangkan melalui kerja bersama.

Kisah Istiqamah memperlihatkan bahwa seorang petani dapat memainkan peran jauh melampaui batas kebunnya sendiri. Dari Aceh, ia membawa pesan tentang pentingnya menjaga alam, memperkuat koperasi, dan memastikan perempuan memiliki suara dalam menentukan masa depan industri kopi. Dibalik setiap biji kopi yang dipetik, terdapat kerja keras, harapan, dan perjuangan untuk kehidupan yang lebih baik. Pengakuan dunia terhadap Istiqamah pun menjadi pengingat bahwa para petani bukan sekadar penghasil komoditas, melainkan penjaga lingkungan dan penggerak perubahan yang layak mendapat tempat dalam percakapan global. (**)