17 Oktober 2026
News

Ribuan Titik Api Terdeteksi Satelit, Karhutla Diduga Picu Kabut Asap hingga ke Aceh

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Ribuan titik panas atau *hotspot* terdeteksi di berbagai wilayah Indonesia berdasarkan pemantauan satelit yang ditampilkan dalam aplikasi Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Sebaran titik panas tersebut menjadi perhatian di tengah munculnya kabut asap yang dilaporkan mencapai wilayah Aceh, Jumat (16/10).

Berdasarkan data yang dikutip dari aplikasi Sipongi, pemantauan satelit Terra/Aqua mencatat sebanyak 537 titik panas, terdiri atas 178 titik berwarna merah, 316 titik kuning, dan 43 titik hijau.

Sementara itu, satelit SNPP mendeteksi total 1.572 titik panas, dengan rincian 90 titik merah, 1.232 titik kuning, dan 250 titik hijau. Adapun pemantauan melalui satelit NOAA20 mencatat angka tertinggi, yakni 1.746 titik panas, yang terdiri atas 44 titik merah, 1.333 titik kuning, dan 369 titik hijau.

Jika ketiga hasil pemantauan tersebut dijumlahkan, terdapat 3.855 catatan titik panas dari masing-masing satelit. Angka ini merupakan akumulasi hasil deteksi, bukan berarti terdapat 3.855 titik kebakaran yang berbeda, karena kemungkinan ada lokasi yang terdeteksi oleh lebih dari satu satelit.

Peta sebaran yang ditampilkan memperlihatkan titik-titik panas tersebar di sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga kawasan Nusa Tenggara dan sekitarnya. Namun, untuk memastikan wilayah yang paling berkontribusi terhadap kabut asap di Aceh, diperlukan data lokasi dan waktu deteksi yang lebih terperinci, termasuk arah serta kecepatan angin.

Tingginya jumlah titik panas tersebut menjadi pengingat pentingnya pengawasan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Aparat terkait, pemerintah daerah, serta instansi lingkungan hidup perlu memastikan titik panas yang terindikasi kebakaran segera diperiksa di lapangan, terutama apabila berada di kawasan hutan, lahan gambut, atau wilayah yang berpotensi menghasilkan asap dalam jumlah besar.

Masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan apabila kabut asap semakin pekat, membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, serta menggunakan masker yang sesuai saat harus beraktivitas di luar rumah. Data Sipongi dapat menjadi salah satu rujukan pemantauan, tetapi penyebab dan sumber kabut asap yang mencapai Aceh tetap perlu dipastikan melalui verifikasi lokasi kebakaran, data kualitas udara, dan analisis meteorologi. (**)