11 Februari 2026
Daerah

Hidup di Zona Merah: 50 Hari Pasca Bencana, Warga Dusun Kuta Awe Timur Beurawang Krisis Air Bersih

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Lima puluh hari pasca banjir bandang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, kehidupan warga Dusun Kuta Awe Timur, Gampong Beurawang, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh masih berjalan tertatih. Lumpur belum sepenuhnya dibersihkan dari rumah-rumah warga, trauma belum sirna, sementara kebutuhan dasar justru semakin mendesak.

Dusun Kuta Awe Timur termasuk zona merah rawan banjir, karena jaraknya hanya sekitar 50 meter dari aliran Krueng Meureudu. Kedekatan dengan sungai besar yang kerap meluap itu membuat warga hidup dalam bayang-bayang ancaman banjir susulan, bahkan ketika proses pemulihan pasca bencana belum juga rampung.

Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi rumah warga masih memprihatinkan. Lantai dan dinding dipenuhi lumpur mengeras, perabot rusak, dan sebagian bangunan mengalami keretakan. Meski berada di zona berisiko tinggi dan terdampak berat, warga dusun ini tidak masuk dalam daftar penerima hunian sementara (huntara). Mereka terpaksa bertahan di rumah yang belum layak huni, tanpa kepastian relokasi atau perlindungan yang memadai.

Ironisnya, dusun ini hanya berjarak beberapa meter dari Water Treatment Plant (WTP) PDAM Beurawang yang kini hancur total akibat diterjang banjir bandang. Sumber pengolahan air bersih itu lumpuh, sementara sumur-sumur warga tercemar lumpur dan material banjir. Akibatnya, warga mengalami krisis air bersih yang berkepanjangan.

Ibu Salbiah, salah seorang korban banjir bandang di Dusun Kuta Awe Timur, mengungkapkan kesulitan yang hingga kini masih dialaminya bersama keluarga.

“Air bersih sangat susah. Sumur rusak, airnya keruh dan bau. Kami terpaksa ambil air dari tempat lain, kadang tidak layak, tapi terpaksa dipakai untuk masak dan mandi,” ujar Salbiah.

Menurutnya, hingga 50 hari pascabencana, belum ada solusi permanen terkait kebutuhan air bersih bagi warga. Menjelang bulan suci Ramadan, kondisi ini semakin mengkhawatirkan.

“Dekat WTP, tapi kami tidak dapat air sama sekali. Kami sangat berharap ada tandon air bersih atau sumur bor. Kalau tidak, kami bingung harus bagaimana,” tambahnya.

Banjir bandang memang telah surut, namun bagi warga Dusun Kuta Awe Timur, hidup di zona merah berarti ancaman belum benar-benar pergi. Di tengah jarak yang dekat dengan sungai, fasilitas air yang hancur, dan ketiadaan huntara, mereka menunggu kehadiran bantuan kemanusiaan, bukan sekadar catatan dalam laporan bencana, tetapi solusi yang menyentuh langsung kehidupan mereka. (**)