11 Februari 2026
Kisah

Jejak Empati Ibu-Ibu Seruni IV di Pidie Jaya Pasca Bencana

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Di tanah yang masih menyimpan luka bencana, harapan sering datang dari hal-hal paling sederhana: air bersih yang kembali mengalir, dan daging Meugang yang bisa dibagi bersama keluarga. Selasa (10/2/2026), harapan itu hadir bersama langkah para ibu yang tergabung dalam Seruni Kabinet Merah Putih Bidang IV, menyusuri desa-desa terdampak bencana paling parah di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Kunjungan kemanusiaan ini diikuti oleh para ibu menteri lintas kementerian, yakni Ibu Sri Suparni Bahlil (istri Menteri ESDM), Ibu Tri Tito Karnavian (istri Menteri Dalam Negeri), Ibu Ernawati Trenggono (istri Menteri Kelautan dan Perikanan), Ibu Leomongga Kartasasmita (istri Menteri Perindustrian), Ibu Irma Dody Hanggodo (istri Menteri Pekerjaan Umum), Ibu Sulikah Hanif (istri Menteri Lingkungan Hidup), serta Ibu Ida Pratikno (istri Menteri Koordinator PMK). Kehadiran mereka menjadi simbol kolaborasi empati perempuan dalam memastikan kebutuhan paling dasar warga benar-benar terpenuhi.

Rangkaian kegiatan dimulai dari Desa Meunasah Raya dan Desa Manyang Cut. Di dua gampong ini, Seruni Bidang IV meninjau langsung revitalisasi sumur bor, fasilitas air bersih, serta toilet mobox yang menjadi tumpuan kehidupan warga pascabencana. Bantuan diserahkan tanpa jarak: perlengkapan rumah tangga, peralatan ibadah, Al-Qur’an, seragam dan perlengkapan sekolah, paket Ramadhan, Gemarikan, alat kebersihan, obat-obatan, sembako, hingga alat pemurnian air. Di sela penyerahan, para ibu Seruni duduk, mendengar, dan membiarkan empati bekerja sebelum kata-kata.

Di kawasan Hunian Danantara, Desa Manyang Lancok, Kecamatan Meureudu, perhatian Seruni Bidang IV tertuju pada sarana air bersih yang dibangun oleh PT Pertamina (Persero) melalui program Pertamina Peduli, bekerja sama dengan Kementerian ESDM dan dukungan Elnusa. Fasilitas ini diperuntukkan bagi penghuni Hunian Danantara 2 dan 3, yang hingga kini masih berjuang menata ulang kehidupan. Air bersih di tempat ini bukan sekadar fasilitas, melainkan fondasi kesehatan, sanitasi, dan martabat keluarga.

Bupati Pidie Jaya H. Sibral Malasyi, MA, yang mendampingi langsung kunjungan tersebut, mengatakan bahwa air bersih adalah kebutuhan paling mendasar bagi warga, khususnya mereka yang masih tinggal di kawasan hunian pasca bencana. Ia menyampaikan apresiasi atas kolaborasi Seruni, Pertamina, Kementerian ESDM, PU, Kapolri, dan seluruh pihak yang terlibat. Menurutnya, fasilitas air bersih sangat penting bagi kesehatan keluarga, kualitas lingkungan, serta masa depan perempuan dan anak-anak Pidie Jaya. “Kami berharap fasilitas ini dijaga dan dimanfaatkan bersama agar memberi manfaat jangka panjang,” ujarnya singkat.

Namun kepedulian Seruni Bidang IV tidak berhenti pada infrastruktur. Menjelang Meugang, tradisi penting masyarakat Aceh, para ibu menteri juga berbagi kebahagiaan melalui sumbangan tiga ekor sapi Meugang untuk warga Pidie Jaya.
Satu ekor sapi disumbangkan oleh Ibu Sri Suparni Bahlil untuk warga Gampong Meunasah Raya.
Satu ekor sapi lainnya diserahkan oleh Ibu Irma Dody Hanggodo, istri menteri PU untuk warga Gampong Manyang Cut. Sementara satu ekor sapi Meugang kembali dibagikan oleh Ibu Zita Anjani, istri Menteri Perdagangan, untuk warga Gampong Beurawang.

Bagi warga, daging Meugang bukan hanya soal pangan. Ia adalah simbol kebersamaan, penawar trauma, dan tanda bahwa tradisi tetap dirawat meski bencana sempat merenggut segalanya. Di wajah-wajah sederhana itu, tersimpan rasa syukur yang tak perlu diucapkan panjang.

Istri Menteri ESDM Ibu Sri Suparni Bahlil menyampaikan bahwa kehadiran Seruni di Pidie Jaya merupakan bagian dari arahan langsung Ibu Wakil Presiden selaku Ketua Seruni. “Pidie Jaya menjadi perhatian karena merupakan salah satu daerah terdampak bencana paling parah. Arahan Ibu Wapres jelas, Seruni harus hadir di titik-titik yang paling membutuhkan,” ujarnya.

Malam hari ditutup dengan ramah tamah di Pendopo Bupati Pidie Jaya. Namun yang tinggal di hati warga bukanlah seremoni, melainkan air yang mengalir di kran, daging Meugang yang terbagi di dapur-dapur kecil, dan keyakinan bahwa negara hadir melalui tangan-tangan perempuan yang bekerja dengan hati. Di Pidie Jaya, Seruni Bidang IV membuktikan bahwa pemulihan pascabencana dimulai dari empati, dan empati selalu menemukan jalannya. (Teuku Saifullah)