14 Mei 2026
Kisah

Hidup Dalam Gelap dan Kemiskinan, Janda Korban Konflik Ini Bertahan di Gubuk Hampir Roboh

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDDi ujung sebuah jalan kerikil di Desa Alue Bieng, Kecamatan Paya Bakong, malam datang lebih cepat bagi Kartini. Bukan karena matahari terlalu lekas tenggelam, tetapi karena rumah reyot yang ia tinggali tak pernah mengenal cahaya listrik. Saat rumah-rumah lain mulai terang oleh lampu dan suara televisi, gubuk kayu miliknya hanya ditemani remang pelita dan bunyi angin yang masuk dari celah-celah dinding lapuk.


Perempuan 44 tahun itu hidup bersama putrinya, Bunga, nama samaran yang sengaja disembunyikan agar gadis itu tak semakin malu pada nasibnya sendiri. Rumah peninggalan ibunya berdiri nyaris roboh. Atap sengnya berlubang di banyak sisi. Jika hujan turun, air menetes tanpa ampun ke tikar tempat mereka tidur. Pada malam-malam tertentu, ibu dan anak itu hanya bisa duduk memeluk lutut, menunggu hujan reda sambil menggigil kedinginan.

“Kalau hujan deras, mereka tidak bisa tidur. Bocor di mana-mana,” tutur seorang warga desa lirih, seolah takut suaranya ikut menambah luka keluarga itu.

Namun penderitaan Kartini bukan hanya soal kemiskinan. Ada luka yang jauh lebih tua daripada rumah rapuh itu. Luka yang tak terlihat mata, tetapi terus hidup di dalam ingatannya. Warga menyebut Kartini mengalami gangguan kejiwaan akibat trauma berat semasa konflik Aceh. Puluhan tahun lalu, ia dan ibunya pernah disandera selama lima malam oleh oknum aparat ketika tanah rencong masih diliputi ketakutan dan suara tembakan. Sejak saat itu, hidup Kartini seperti tak pernah benar-benar pulih.

Trauma itu kini bercampur dengan sunyi dan gelap. Ironisnya, di tengah gencarnya program elektrifikasi dan pembangunan desa, rumah Kartini justru menjadi satu-satunya rumah yang belum tersentuh aliran listrik. Kabel PLN berhenti jauh sebelum mencapai halaman rumahnya, seolah negara pun ikut berhenti memperhatikan hidup perempuan itu.

Warga mengaku pernah berusaha membantu. Nama Kartini sudah beberapa kali diajukan dalam program listrik gratis. Tetapi jawaban yang diterima selalu sama: jaringan kabel tidak sampai ke rumahnya. Sejak itu, harapan mereka menggantung begitu saja di udara malam yang dingin.

Kemiskinan yang mengepung Kartini akhirnya menjalar ke masa depan anaknya. Bunga terpaksa berhenti sekolah ketika baru duduk di bangku kelas dua SMA. Bukan karena ia malas belajar, melainkan karena jarak sekolah terlalu jauh dan ongkos transportasi menjadi kemewahan yang mustahil dipenuhi. Seragam sekolah yang dulu dipakainya kini hanya tergantung lusuh di sudut rumah.

Padahal, seperti remaja lain, Bunga pernah memiliki mimpi. Ia sempat pergi ke Banda Aceh untuk bekerja sebagai pengasuh anak di rumah kerabat demi membantu ibunya bertahan hidup. Tetapi hidup tidak memberinya banyak pilihan. Kondisi Kartini yang sering membutuhkan perhatian membuat gadis itu akhirnya pulang, kembali ke rumah gelap yang perlahan mengubur cita-citanya sendiri.
Geuchik Desa Alue Bieng, Muchtar, mengakui kondisi memilukan tersebut. Ia mengatakan pihak desa sudah beberapa kali mencoba mengupayakan bantuan kepada berbagai pihak, tetapi hingga kini belum ada hasil nyata yang diterima keluarga Kartini.

Kisah Kartini bukan sekadar cerita tentang rumah bocor atau kemiskinan di pedalaman Aceh Utara. Ini adalah potret tentang seorang korban konflik yang masih hidup dalam bayang-bayang trauma, tentang seorang anak yang kehilangan masa depannya karena kemiskinan, dan tentang sistem yang belum sepenuhnya hadir bagi mereka yang paling membutuhkan. Di tengah besarnya anggaran pembangunan dan berbagai janji kesejahteraan, Kartini masih menua dalam gelap, seakan sejarah pernah melukainya, lalu negara diam-diam ikut melupakannya. (F.PB)