11 Februari 2026
Kisah

Dua Bulan Belajar di Tenda, Anak Pidie Jaya Bangkit Lewat Pelukan Relawan

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Di bawah tenda putih bantuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), suara tawa anak-anak perlahan menggantikan sunyi trauma. Hampir dua bulan lamanya, siswa kelas 3 SD Ceudah Rabbani, Yayasan Ceudah Mulia, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, menjalani hari-hari belajar dalam keterbatasan pasca bencana banjir bandang yang melanda pada 26 November 2025 silam. Tenda darurat itu kini bukan sekadar ruang belajar, melainkan saksi bisu perjuangan kecil anak-anak yang dipaksa dewasa oleh bencana.

Banjir bandang yang datang tanpa ampun tak hanya merusak bangunan sekolah, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Dari wajah-wajah polos itu, terlihat jelas rasa cemas, kehilangan, dan kebingungan yang belum sepenuhnya pulih. Bangku sekolah berganti alas terpal biru, papan tulis diganti dinding tenda, namun kenangan akan air bah masih kerap hadir di benak mereka.

Di tengah aktivitas belajar, momen haru tak terelakkan. Seorang siswa tampak menyeka air matanya, menunduk dalam diam. Entah rindu ruang sekolahnya yang dulu, atau bayangan malam saat banjir datang, air mata itu menjadi bahasa paling jujur dari luka yang belum sempat diucapkan. Guru dan relawan hanya bisa mendekat, memberi sentuhan hangat sebagai penguat.

Harapan itu datang dari arah yang tak disangka. Sejumlah relawan tamu dari ISTAMA (Ikatan Santri Talents Mapping Aceh) hadir khusus dari Banda Aceh. Mereka datang bukan membawa materi pelajaran semata, melainkan empati, permainan, dan nyanyian, hal-hal sederhana yang mampu membuka kembali pintu keceriaan anak-anak pasca bencana.

Perlahan, suasana berubah. Anak-anak yang semula duduk kaku mulai tersenyum, lalu tertawa. Mereka diajak bermain, bernyanyi, dan bergerak bersama. Tenda darurat itu mendadak hidup, dipenuhi suara riang dan tepuk tangan kecil yang penuh semangat. Seakan trauma yang menekan selama ini diberi jeda untuk bernapas.

Dampak psikologis bencana terlihat jelas dari wajah-wajah anak bangsa, calon penerus masa depan. Namun, kehadiran relawan muda ISTAMA seolah menjadi jembatan pemulihan. Wanita relawan muda itu tampak memahami betul karakteristik anak pasca bencana, tak memaksa mereka bercerita, tetapi mengajak mereka tertawa, bergerak, dan merasa aman kembali.

Bagi anak-anak SD Ceudah Rabbani, hari itu menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendiri. Ada tangan-tangan yang datang dari jauh, membawa kepedulian dan harapan. Di bawah tenda sederhana, mereka kembali belajar arti kebersamaan, bahwa luka bisa perlahan sembuh ketika ada yang mau hadir dengan tulus.

Di tengah keterbatasan pasca bencana, kisah ini menjadi potret ketahanan dan kemanusiaan. Tenda darurat mungkin bersifat sementara, tetapi semangat anak-anak Pidie Jaya dan kepedulian para relawan adalah fondasi kuat bagi masa depan. Dari terpal biru dan tenda putih itulah, harapan kembali ditumbuhkan, pelan, namun pasti. (TS)