Kemiskinan
Dua Hari Tanpa Nasi: Kisah Pilu Lima Bersaudara di Pidie Jaya yang Bertahan Hidup Tanpa Orang Tua
"Ada rumah yang di dalamnya terdengar suara tawa anak-anak. Ada pula rumah yang setiap malam hanya menyisakan suara perut keroncongan, langkah kaki kecil, dan doa yang dipanjatkan dalam diam."
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Di sebuah rumah sederhana di Gampong Mulieng, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh lima bersaudara menjalani hari-hari yang seharusnya belum menjadi tanggung jawab mereka. Usia mereka masih terlalu muda untuk memahami kerasnya kehidupan. Namun keadaan memaksa mereka belajar menjadi dewasa lebih cepat dari waktunya.
Sejak kedua orang tuanya berpisah sekitar lima tahun lalu, kelima anak tersebut harus menjalani hidup dengan segala keterbatasan. Tidak ada tangan orang tua yang setiap pagi membangunkan mereka untuk sekolah. Tidak ada yang memastikan makanan tersedia di meja. Bahkan untuk sekadar membeli beras pun terkadang mereka harus berpikir panjang.
Yang lebih menyayat hati, dalam kondisi tertentu mereka pernah tidak makan selama dua hari. Bukan karena mereka tidak ingin makan. Bukan pula karena mereka memilih hidup seperti itu. Mereka hanya tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan. Dalam keadaan terdesak, beras akhirnya dipinjam dari tetangga.Begitulah kehidupan yang mereka jalani hari demi hari, bulan demi bulan.
Anak pertama, AM (20), seharusnya sedang menata masa depannya. Tetapi ia memilih mengorbankan pendidikan demi adik-adiknya. Sekolah ditinggalkan agar ia bisa bekerja dan membantu memastikan adik-adiknya tetap bertahan hidup. Anak ketiga yang masih duduk di kelas II SMP juga pernah berhenti sekolah karena ketiadaan biaya. Untuk membantu kebutuhan keluarga, ia bekerja serabutan, termasuk membantu penyemaian bibit kakao.
Sementara itu, anak kedua bekerja di luar kota. Sedangkan adik-adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar harus tetap berjuang menjalani pendidikan di tengah keterbatasan. Mereka bukan tidak memiliki mimpi. Mereka hanya terlalu sering berhadapan dengan kenyataan bahwa mimpi membutuhkan biaya.
Kisah lima bersaudara ini akhirnya sampai ke telinga seorang anggota Polri, Aipda Jonni Rahmad, personel Polres Pidie Jaya, Polda Aceh. Mendengar kabar tersebut, Jonni tidak hanya berhenti pada rasa iba. Ia mendatangi langsung rumah sederhana itu pada Rabu, 29 Juli 2026.
Di sana ia menemukan kenyataan yang jauh lebih berat daripada cerita yang sebelumnya ia dengar. “Setelah kami cek dan mendatangi langsung rumahnya, ternyata benar terdapat lima orang anak yang hidup mandiri di desa tersebut,” ujar Aipda Jonni.
Ia kemudian memberikan sedikit tali asih berupa uang untuk kebutuhan belanja, makanan ringan dan perlengkapan sekolah. Nilainya mungkin tidak seberapa dibandingkan kebutuhan hidup mereka. Tetapi bagi lima anak itu, kedatangan seseorang yang mau melihat, mendengar dan peduli mungkin jauh lebih berarti dari pada nominal bantuan tersebut. Sebab terkadang, yang paling menyakitkan bagi orang miskin bukan hanya ketika mereka tidak memiliki makanan. Tetapi ketika tidak ada seorang pun yang peduli bahwa mereka sedang lapar.
Kisah lima bersaudara ini semestinya tidak berhenti sebagai sebuah berita. Ia adalah cermin bagi kita semua. Para orang kaya, para tokoh gampong, para dermawan, para pemimpin, para pejabat, bahkan kita yang hari ini masih mampu menikmati makanan bersama keluarga barangkali perlu sejenak bertanya kepada diri sendiri.
Sudahkah kita melihat anak-anak di sekitar kita yang lapar?
Berapa banyak anak yang mungkin tidur dengan perut kosong sementara kita membuang makanan?
Berapa banyak anak yang ingin sekolah tetapi terpaksa bekerja?
Berapa banyak rumah yang pintunya tertutup rapat, bukan karena penghuninya baik-baik saja, tetapi karena mereka malu mengakui bahwa hari itu tidak ada beras untuk dimasak?
Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan kemiskinan. Namun kita selalu bisa melakukan sesuatu. Sepiring nasi. Sakarung beras. Buku dan seragam sekolah. Sedikit uang belanja. Atau sekadar memastikan bahwa seorang anak tidak tidur dalam keadaan lapar. Jangan menunggu menjadi kaya untuk berbagi. Jangan menunggu menjadi pejabat untuk peduli. Dan jangan menunggu ada orang lain yang bergerak lebih dahulu. Sebab kehidupan dunia ini hanya sementara.
Hari ini kita mungkin berdiri sebagai orang yang memiliki rumah, pekerjaan, jabatan, kendaraan dan makanan yang cukup. Tetapi tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana keadaan kita esok hari. Pada akhirnya, seluruh kekayaan, jabatan dan kekuasaan akan ditinggalkan.
Yang akan menyertai kita hanyalah amal dan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Barangkali kelak bukan hanya orang yang mengambil hak orang lain yang akan ditanya. Mungkin kita juga akan ditanya tentang apa yang kita lakukan ketika melihat seorang anak kelaparan, sementara kita memiliki kemampuan untuk menolongnya.
Kisah lima bersaudara di Gampong Meunasah Mulieng ini menjadi pelajaran bagi kita semua, kisah pilu yang menyakitkan, jangan sampai di sebuah gampong ada anak yang kelaparan, sementara di rumah lain makanan berlimpah dan orang-orang yang mampu memilih menutup mata. Karena bisa jadi, tangisan anak miskin yang kita abaikan hari ini adalah bagian dari pertanyaan yang kelak harus kita jawab di hadapan Allah. (**)






