Teungku Siti Rubiah, Ulama Perempuan Aceh yang Namanya Hidup Dalam Sebuah Pulau
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Di sebuah pulau kecil yang dipeluk laut biru Pulau Weh, nama seorang perempuan Aceh tetap hidup jauh melampaui batas usia manusia. Namanya Teungku Siti Rubiah. Ia bukan sekadar nama yang melekat pada sebuah pulau, tetapi bagian dari ingatan panjang tentang dakwah, keteguhan perempuan, dan jejak Islam di ujung barat Nusantara.
Di tengah rimbunnya pepohonan Pulau Rubiah, makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Siti Rubiah berdiri dalam kesunyian. Batu-batu alam, pepohonan tua dan suara angin seakan menjadi saksi bahwa tempat ini pernah menjadi bagian dari perjalanan seorang ulama perempuan Aceh yang hidup sekitar abad ke-18. Dalam tradisi sejarah lokal, Siti Rubiah diperkirakan wafat sekitar 1779.
Siti Rubiah diyakini berasal dari Singkil. Beliau adalah pendamping hidup sekaligus bagian dari perjalanan dakwah Tgk. Ibrahim, yang dikenal masyarakat sebagai Tgk. Chik Di Iboih atau Tgk. Iboih, seorang ulama yang menyebarkan Islam di kawasan Pulau Weh. Namun kisah Siti Rubiah tidak berhenti sebagai istri seorang ulama. Ia sendiri dikenang sebagai sosok yang mengajarkan agama kepada masyarakat dan meneruskan kehidupan dakwahnya hingga akhir hayat.
Di balik nama besarnya, tersimpan sebuah cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena perbedaan pandangan akhirnya membawa keduanya memilih tempat tinggal yang berbeda. Kisah yang berkembang bahkan menyebut daratan terpisah setelah Tgk. Iboih menghentakkan tongkatnya ke tanah.
Terlepas dari mana batas antara sejarah dan legenda, satu hal yang membuat kisah Siti Rubiah tetap bertahan adalah perjalanan hidupnya setelah berpindah ke pulau kecil di seberang Iboih. Di tempat itulah ia disebut terus mengajarkan agama kepada masyarakat. Pulau yang sebelumnya hanya sebuah daratan kecil kemudian dikenang melalui namanya, yakni Pulau Rubiah.
Kini, ketika wisatawan datang ke Pulau Rubiah untuk menikmati laut dan keindahan bawah airnya, tidak banyak yang menyadari bahwa di balik panorama tersebut tersimpan kisah seorang perempuan yang namanya telah menyatu dengan sejarah Sabang. Makam itu menjadi sebuah kisah warisan Aceh yang tidak hanya dibangun oleh nama-nama besar di pusat kerajaan atau medan perjuangan, tetapi juga oleh perempuan-perempuan yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan agama.
Siti Rubiah, namanya tidak diabadikan dalam bangunan megah, melainkan dalam sebuah pulau yang setiap hari disentuh ombak Selat Malaka. Selama Pulau Rubiah disebut, selama para peziarah datang dan selama kisahnya dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, jejak Teungku Siti Rubiah akan terus hidup dan dikenang sebagai salah satu kisah perempuan Aceh yang menyeberangi zaman melalui dakwah, keteguhan, dan ingatan masyarakat. (**)







