LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Di pesisir Aceh, ketika malam hari dan suara air mengalir seperti doa yang tak putus, orang-orang tua dulu berjalan menyusuri sungai dengan langkah yang hafal arah. Di tangan mereka, tergenggam anyaman bambu bernama bubei atau bubu yang sederhana, namun menyimpan harapan. Ia bukan sekadar alat, melainkan bagian dari hidup yang menyatu dengan alam.
Bubei dibuat dari bilah-bilah bambu yang dianyam dengan ketelitian tangan dan kesabaran waktu. Bentuknya dirancang khusus, memberi jalan masuk bagi ikan, namun tak memberi celah untuk kembali. Sebuah filosofi sederhana tentang rezeki bahwa yang datang dengan cara baik akan menetap tanpa perlu dipaksa.
Setiap malam, bubei ditanam di aliran sungai yang tenang. Air menjadi perantara, arus menjadi penuntun. Tak ada jaminan hasil, hanya keyakinan yang disandarkan pada alam. Pagi harinya, dengan cahaya matahari yang baru beranjak naik, para nelayan kecil itu kembali, mengangkat bubei dengan harap yang tak pernah benar-benar padam.
Hasilnya tak selalu melimpah. Ikan-ikan kecil yang terperangkap menjadi saksi kesabaran. Separuh dibawa pulang, menjadi lauk sederhana di meja keluarga. Separuh lainnya dijual, sekadar cukup untuk menyambung hari. Begitulah hidup berjalan tenang, bersahaja, dan penuh syukur.
Namun waktu bergerak tanpa menoleh ke belakang. Perlahan, bubei mulai hilang dari sungai-sungai. Digantikan alat modern yang lebih cepat, lebih praktis, namun sering kali kehilangan rasa. Generasi muda tak lagi mengenal bunyi bambu yang beradu dengan air, atau cerita panjang yang menyertai setiap anyaman.
Di tengah kehilangan itu, Syeh Husaini, seorang budayawan Aceh asal Pidie Jaya melihat sesuatu yang berbeda. Ia tak ingin bubei hanya tinggal kenangan. Dari tangannya, bubei bangkit kembali, bukan sebagai alat tangkap, melainkan sebagai denyut kesenian yang hidup.

Di Kabupaten Pidie Jaya, lahirlah Rapai Bubei, sebuah kesenian yang memadukan tabuhan rapai dengan gerak tari yang memanfaatkan bubei sebagai properti utama. Bunyi perkusi menggema, sementara para penari menghidupkan kembali ruh tradisi yang hampir tenggelam. Kesenian ini bukan sekadar hiburan. Ia membawa kisah lama tentang pengobatan tradisional, tentang kepercayaan pada yang tak kasat mata, dan tentang hubungan manusia dengan alam serta keyakinannya. Setiap gerakan adalah bahasa, setiap irama adalah cerita yang diwariskan tanpa tulisan.
Pada tahun 2020, Rapai Bubei resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh . Sebuah pengakuan yang bukan hanya tentang seni, tetapi juga tentang ingatan kolektif yang berhasil diselamatkan dari lupa. Kini, bubei mungkin tak lagi banyak ditemukan di sungai-sungai Aceh. Namun ia tetap hidup di panggung-panggung budaya, di tangan para penari, dan di dada mereka yang masih percaya bahwa tradisi bukan untuk ditinggalkan, melainkan untuk dihidupkan kembali dengan cara yang baru. (**)







