Saat Bantuan Terhenti, Nasib Farhan Disabilitas di Pidie Jaya Kian Tak Menentu
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, Farhan seharusnya menikmati masa remaja seperti anak-anak lain. Namun takdir membawanya ke lorong kehidupan yang terjal. Sejak lahir ia tak mengenal ayah kandung, Farhan sudah merasakan kerasnya dunia bahkan sejak ia belum mampu berbicara. Ia adalah penyandang disabilitas fisik sekaligus disabilitas intelektual, kondisi yang diperparah oleh dugaan kekerasan dan penyiksaan yang dialaminya sejak bayi. Luka itu bukan hanya membekas di tubuhnya, tetapi juga pada jiwa dan perkembangan mentalnya hingga hari ini.
Seiring bertambahnya usia, hidup Farhan kian tak menentu. Ia sempat dibuang dan berpindah-pindah tanpa arah, seolah tak ada tempat yang benar-benar menerimanya. Dari Sigli ia berjalan hingga ke Seulawah, lalu dibawa kendaraan menuju Banda Aceh. Perjalanannya berlanjut ke Bener Meriah, sebelum akhirnya terdampar di Kabupaten Pidie Jaya. Dalam kondisi rentan, tanpa keluarga yang melindungi, Farhan hidup terlunta-lunta, menjadi anak yang seakan luput dari perhatian siapa pun.
Titik terang muncul ketika Farhan ditampung di Panti Asuhan Bustanul Aitam di Kecamatan Ulim, Pidie Jaya. Di sana, ia diasuh oleh Tengku Nas, sosok pengasuh panti yang dengan sabar merawat anak-anak yatim dan terlantar. Dengan penuh keikhlasan, Tengku Nas menerima Farhan apa adanya, meski memahami bahwa merawat anak dengan disabilitas fisik dan gangguan kejiwaan bukan perkara mudah.
Bertahun-tahun Farhan dirawat dengan segala keterbatasan. Tengku Nas bahkan beberapa kali membawanya menjalani perawatan ke rumah sakit jiwa demi menstabilkan kondisi mentalnya. Di tengah keterbatasan fasilitas dan biaya, pengasuh panti itu tetap berupaya memastikan Farhan mendapatkan perhatian dan kasih sayang, sesuatu yang mungkin jarang ia rasakan sebelumnya.
Namun perjuangan itu tak selalu mendapat dukungan yang memadai. Pada masa kepemimpinan Kepala Dinas Sosial sebelumnya, Panti Bustanul Aitam sempat menerima alokasi anggaran sekitar Rp12 juta per tahun untuk membantu operasional. Setelah terjadi pergantian kepemimpinan, bantuan tersebut terhenti. Sejak itu, panti bertahan dengan sumber daya yang sangat terbatas.
Cobaan semakin berat ketika banjir bandang melanda dan merusak hampir seluruh fasilitas panti. Dana kas yang tersisa terpaksa digunakan untuk kebutuhan darurat dan keberlangsungan hidup anak-anak asuh lainnya. Dalam kondisi tersebut, Tengku Nas mengaku tidak lagi sanggup membiayai perawatan khusus Farhan yang membutuhkan perhatian medis dan pengawasan intensif setiap hari.
“Farhan bukan anak yang mudah dirawat. Ia penyandang disabilitas sekaligus mengalami gangguan jiwa. Saya sudah berusaha semampu saya, tapi saat ini saya benar-benar tidak punya biaya lagi,” ujar Tengku Nas dengan suara lirih, menyimpan kelelahan sekaligus kepedihan.
Kini, harapan kembali dititipkan pada pemerintah daerah dan pada hati nurani masyarakat. Tengku Nas memohon agar Dinas Sosial dan pihak terkait mengambil tanggung jawab, atau setidaknya mencarikan solusi terbaik bagi Farhan. Kisahnya adalah potret nyata anak disabilitas yang nyaris terabaikan sistem. Di balik segala keterbatasannya, Farhan tetaplah anak bangsa yang berhak atas hidup layak, perlindungan, dan masa depan yang lebih bermartabat. Semoga masih ada tangan-tangan kebaikan yang tergerak, sebelum langkah panjang Farhan kembali terhenti di persimpangan. (**)








