18 Maret 2026
Daerah

PMI Asal Bima Alami Stroke di Malaysia Kepulangan Jadi Atensi Gubernur NTB Pemda Bima

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDSebagai panglima dibalik pergerakan nasional, "organisasi". Anak Muda Bima Indonesia (AMBI) Syarif Kalepe, memberikan pernyataan sikap. Mengatakan tentang perso'alan rasa prihatin kemanusiaan dan kepada siapapun yang ingin berangkat mencari rezeki di luar negeri, agar memastikan legalitas dokumen keberangkatannya.

Kemudian para pengirim atau sponsor dipastikan keberangkatan itu melalui jalur yang legal, harapan saya agar semua calon peserta migran Indonesia (CPMI). Sebelum berangkat agar memastikan dokumen-dokumennya semua memenuhi syarat, sehingga tidak diberangkatkan secara ilegal dan ini sangat dirugikan dan bahkan menjadi korban. Ungkap Syarif 

Menurutnya yang menginformasikan update penanganan PMI atas nama Juwiati asal desa boro kecamatan sanggar kabupaten Bima, mengalami sakit di Kuala Lumpur. Bahwa laporan tersebut, sudah menjadi atensi dan perhatian oleh Gubernur NTB

Informasi semula di wilayah kerja KJRI Penang ternyata diketahui berada di wilayah kerja KBRI Kuala Lumpur dan saat ini tengah dilakukan upaya penanganan dengan proses yang memerlukan waktu panjang untuk memulangkan, mengingat PMI bekerja secara ilegal. Serta kondisi saat ini PMI dalam kondisi stabil meski belum normal karena sudah bisa duduk di kursi roda. (BP3MI) Tak luput dari perhatian Disnaker juga sudah berkoordinasi denga KBRI Kuala Lumpur secara intens. Pungkasnya 

‎Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), bernama Juwiati (35), dilaporkan mengalami stroke saat berada di Malaysia. Kasus ini menjadi perhatian setelah video mengenai kondisinya beredar luas dan viral di media sosial.

Kadis Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bima Aries Munandar ST,. MT Jumat pagi (13/3) menjelaskan, "Juwiati merupakan warga Desa Boro, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima. Melalui Kabag Prokopim Setda ‎Suryadin, S.S., M.Si. Ia diketahui berangkat ke Malaysia pada Juli 2025 secara nonprosedural dan bekerja di sektor cleaning service selama kurang lebih enam bulan.

‎Pada kurun waktu 9 hingga 13 Maret 2026, Juwiati menjalani perawatan di Rumah Sakit Hospital Raja Permaisuri Bainun karena mengalami tekanan darah tinggi yang memicu stroke dan pembekuan darah di otak. Ucap ‎Suryadin.

‎Namun, pada 13 Maret 2026, Juwiati terpaksa keluar dari rumah sakit karena keterbatasan biaya pengobatan. Saat ini, ia berada di sebuah rumah sewa di wilayah Ipoh, Perak, Malaysia, dan didampingi rekannya bernama Opi yang berasal dari Jambi.

‎Pemerintah Kabupaten Bima melalui Disnakertrans Kabupaten Bima telah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak untuk penanganan kasus tersebut. Koordinasi dilakukan melalui Disnakertrans Provinsi NTB dan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Perwakilan Mataram. 

‎Selain itu, penanganan juga telah dilaporkan kepada Kedutaan Besar (Kedubes) Republik Indonesia di Kuala Lumpur yang kini menangani proses pendampingan terhadap Juwiati.

Disnakertrans Kabupaten Bima menyampaikan bahwa pihak KBRI Kuala Lumpur akan memberikan pembaruan informasi terkait perkembangan penanganan kasus tersebut kepada pemerintah daerah melalui koordinasi dengan instansi terkait.

Sesuai arahan Bapak Bupati, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi melakukan koordinasi intensif dengan pihak terkait. Pemerintah Daerah berharap proses penanganan dapat berjalan lancar sehingga kondisi Juwiati dapat segera mendapatkan perhatian medis dan solusi terbaik bagi keselamatannya.

‎"Kami berharap seluruh proses penanganan berjalan lancar, sehingga keselamatan serta kesehatan yang bersangkutan dapat menjadi prioritas utama dan mendapatkan solusi terbaik. Ungkapnya Kabag Prokopim Setda ‎Suryadin, S.S., M.Si. (Aryadin)