15 Mei 2026
Daerah

Di Balik Gemerlap Pendopo Pejabat, Janda Miskin Pidie Jaya Tidur di Rumah Berlantaikan Tanah

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDDi tengah riuh pidato pembangunan dan gemerlap pencitraan para pejabat daerah, ada satu rumah di Gampong Peulandok Teungoh, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, yang seolah luput dari perhatian. Di sana, Rosnani (54) bertahan hidup di sebuah gubuk reyot berdinding pohon pinang belah, beratapkan daun rumbia lapuk, dan berlantaikan tanah. Rumah itu lebih pantas disebut tempat berteduh sementara dari pada hunian manusia yang layak.

Tak ada cat indah, tak ada pencahayaan terang, bahkan ketika hujan turun, air dengan mudah menembus sela-sela atap yang nyaris ambruk. Ironisnya, di saat baliho-baliho ucapan dan slogan kesejahteraan berdiri megah di pinggir jalan kota, seorang janda miskin di pelosok Pidie Jaya masih harus memeluk dingin malam bersama anaknya dalam rumah yang nyaris roboh dimakan usia.

Rosnani bukan pemalas, sejak suaminya tiada, ia menjalani hidup sebagai tulang punggung keluarga. Apa saja pekerjaan dilakukannya demi sepiring nasi untuk anak semata wayangnya, Muhammad Irfan (12). Kadang membantu warga mencuci, membersihkan rumah, atau pekerjaan serabutan lainnya. Namun usia dan penyakit gula darah kini perlahan merenggut kekuatan tubuhnya.

Wajah Rosnani terlihat semakin pucat, langkahnya mulai goyah, tangannya sering gemetar menahan lemah. Sementara di sudut rumah, Muhammad Irfan hanya bisa memandang ibunya dengan mata penuh kecemasan. Bocah itu mungkin belum memahami arti kemiskinan secara utuh, tetapi ia tahu ibunya sedang berjuang melawan sakit dan kerasnya hidup seorang diri.

Bantuan sembako dan PKH yang diterima Rosnani hanya cukup bertahan beberapa hari. Setelah itu, hidup kembali menjadi teka-teki panjang yang harus dihadapi dengan air mata dan harapan. Kadang tetangga membantu seadanya. Kadang mereka harus menahan keinginan demi bisa tetap makan esok hari. Namun kemiskinan seperti dialami Rosnani sering kali kalah ramai dibanding panggung-panggung seremoni yang penuh kamera.

Yang lebih menyakitkan, Rosnani tercatat sebagai warga Desil 1, kategori masyarakat miskin ekstrem yang seharusnya menjadi prioritas perhatian pemerintah. Tapi entah mengapa, hingga kini ia masih tinggal di gubuk rapuh yang bahkan tak layak disebut rumah. Seolah kemiskinan hanya angka dalam laporan, bukan kenyataan yang benar-benar harus disentuh.

Di usia yang sudah lebih dari setengah abad, Rosnani tak meminta kemewahan. Ia hanya ingin sebuah rumah sederhana agar dirinya dan anaknya bisa tidur tanpa takut atap runtuh saat hujan deras datang. Permintaan yang bagi sebagian pejabat mungkin setara harga satu kali jamuan makan atau biaya cetak baliho pencitraan.

“Saya cuma ingin rumah yang layak untuk saya dan anak saya,” ucap Rosnani lirih. Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk menampar nurani siapa pun yang masih memiliki hati. Sebab di balik megahnya laporan keberhasilan dan sibuknya agenda pencitraan, masih ada rakyat kecil yang hidup dalam kemiskinan, menunggu pimpinan daerah benar-benar hadir, bukan sekadar datang saat kamera menyala. (**)