13 September 2026
Kisah

Muttaqin Tarmizy Sang Muthawif Muda Asal Aceh: Menuntun Jamaah Menapak Jejak Kota Nabi

Foto : Muttaqin Tarmizi (Kanan) Bersama Akhyar tokoh Aceh di Jakarta sedang Menunaikan Ibadah Umrah | LIPUTAN GAMPONG NEWS

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDPerjalanan spiritual ke tanah suci terasa belum lengkap tanpa seorang muthawif yang mampu menghidupkan kembali kisah-kisah yang pernah terukir dalam sejarah Islam. Di Madinah, misalnya, jamaah bukan hanya diajak beribadah, tetapi juga menelusuri jejak sejarah dengan mengunjungi tujuh masjid dan sejumlah tempat bersejarah lainnya. Di sinilah sosok Muttaqin Tarmizi hadir sebagai muthawif muda asal Aceh yang memiliki cara tersendiri dalam membawa jamaah seolah-olah menembus lorong waktu, kembali ke masa Rasulullah SAW dan para khalifah.

Bagi Muttaqin, menjadi muthawif bukan sekadar menunjukkan arah perjalanan atau menjelaskan nama sebuah masjid. Ia berusaha membuat setiap tempat yang dikunjungi memiliki cerita dan makna. Dengan tutur kata yang santun, bahasa yang mudah dipahami, serta sesekali diselingi humor ringan, ia membuat jamaah tetap antusias meski matahari Madinah sedang “serius-seriusnya” memancarkan panas. Alhasil, rasa lelah berjalan kaki sering kali kalah oleh rasa penasaran jamaah mendengar kisah berikutnya.

Panas terik Madinah dan Makkah pun bukan alasan untuk berhenti mengenalkan sejarah. Bersama muthawif muda asal Aceh itu, jamaah diajak melihat masjid, tempat bersejarah, hingga lokasi-lokasi yang dikenal memiliki keutamaan dalam berdoa. Setiap perjalanan menjadi kesempatan untuk memperdalam pengetahuan sekaligus menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW, para sahabat, dan sejarah perjuangan umat Islam. Perjalanan yang semula hanya terasa seperti “jalan-jalan” berubah menjadi perjalanan hati.

Muttaqin Tarmizy  merupakan alumni Dayah Jeunieb, Aceh. Teungku muda kelahiran Pidie yang kini berusia 23 tahun itu menetap di tanah suci dan menekuni aktivitas sebagai pemandu jamaah umrah dan haji. Penampilannya sederhana, pembawaannya santun, dan sifatnya humoris. Kemampuan berbahasa Arab menjadi salah satu bekalnya dalam berinteraksi dan menjalankan tugas di tengah lingkungan masyarakat Arab serta jamaah dari berbagai negara.

Kepada awak media, Sabtu (13/9) di Kota Madinah, Muttaqin mengatakan dirinya tidak terikat pada satu nama travel tertentu. Ia lebih banyak bekerja dengan sistem freelance atau sebagai mitra lapangan bagi berbagai biro perjalanan yang membutuhkan tenaga muthawif di tanah suci. Pola kerja tersebut membuatnya berkesempatan mendampingi jamaah dari berbagai daerah dan latar belakang, termasuk jamaah asal Aceh dan Indonesia.

Sejumlah biro perjalanan dari Aceh maupun berbagai daerah di Indonesia disebut telah menjalin kerja sama dengannya. Ketika musim umrah tiba, alumni dayah tersebut kerap menjadi salah satu mitra lapangan yang dipercaya untuk membantu membimbing jamaah. Bagi Muttaqin, setiap rombongan jamaah memiliki karakter yang berbeda. Ada yang sangat rajin bertanya, ada yang pendiam, bahkan ada pula yang lebih sibuk mengabadikan perjalanan dengan kamera. Semua itu menjadi bagian dari dinamika tugas seorang muthawif.

Dalam menjalankan pekerjaannya, Muttaqin juga terlibat dalam layanan ground handling di Makkah, yakni penyedia jasa layanan lapangan atau jaringan muthawif independen yang menjadi mitra berbagai biro perjalanan dari Indonesia. Tugasnya bukan hanya mendampingi jamaah saat beribadah, tetapi juga membantu memastikan perjalanan jamaah sejak tiba di tanah suci hingga rangkaian ibadah selesai berjalan dengan baik. Diusia yang masih muda, tanggung jawab tersebut tentu bukan perkara kecil.

Dibalik kesibukannya membimbing jamaah, Muttaqin adalah seorang pemuda yang juga sedang menata masa depan. Masih single, ia mengaku sudah memiliki keinginan untuk mengakhiri masa lajang. Namun, soal pasangan hidup, ia memilih menyerahkannya kepada Allah SWT. “Cepat atau lambat, InsyaAllah pasti Allah pertemukan,” kata Muttaqin. Barangkali begitulah kehidupan seorang muthawif muda, setiap hari mengajak orang lain menemukan jalan menuju Baitullah, sementara untuk urusan jodoh, ia sendiri masih menunggu “panggilan” dari langit. (**)