16 Maret 2026
Opini

IRAN, ISRAEL, DAN INDUSTRI NARASI: SAAT TOKOH PUBLIK MENYESATKAN PERSEPSI

Ketika Mimbar, Talk Show, Podcast, dan Media Sosial Mengaburkan Fakta

Oleh: Fakhrurrazi, RA
Penulis adalah orang biasa dari Aceh–Indonesia

OPINI - Ruang publik Indonesia belakangan dipenuhi narasi bahwa Iran hanya “berpura-pura” memusuhi Israel, bahkan disebut sebagai sekutu tersembunyi negara Zionis. Narasi ini tidak datang dari ruang hampa. Ia disuarakan oleh figur populer mulai dari ustadz hingga influencer politik yang memiliki jutaan pengikut dan pengaruh besar terhadap opini publik.

Nama-nama seperti Felix Siauw, Khalid Basalamah, Permadi Arya, hingga Efrat Fenigson kerap muncul dalam perdebatan daring terkait isu ini.
Sebagian dari mereka secara langsung atau tidak langsung memperkuat narasi bahwa Iran tidak tulus mendukung Palestina.

Masalahnya bukan pada perbedaan pandangan itu hal wajar dalam demokrasi. Persoalannya muncul ketika opini geopolitik disajikan seolah fakta final, apalagi jika dibungkus dalil agama atau retorika moral yang kuat.

 Isfahan, Dajjal, dan Lompatan Logika

Salah satu “argumen” yang sering digunakan adalah hadis tentang 70.000 Yahudi dari Isfahan yang kelak menjadi pengikut Dajjal. Narasi ini kemudian ditarik ke kesimpulan bahwa Iran modern pada akhirnya berada di pihak Israel.

Di sinilah masalah metodologis muncul.

Hadis tersebut berbicara tentang peristiwa akhir zaman ranah eskatologi yang bahkan para ulama klasik pun memperingatkan agar tidak dispekulasikan secara liar.
Menggunakannya untuk menilai kebijakan luar negeri abad ke-21 sama saja dengan mencampur adukkan nubuat masa depan dengan analisis politik kontemporer.

Lebih jauh lagi, fakta demografi modern menunjukkan komunitas Yahudi di Isfahan saat ini sangat kecil akibat migrasi besar-besaran sejak abad ke-20. Angka puluhan ribu yang disebut dalam hadis jelas tidak merepresentasikan kondisi sekarang.

Jika hadis itu benar dan umat Islam meyakininya benar, maka peristiwa tersebut adalah masa depan yang belum terjadi, bukan bukti konspirasi masa kini.

 *Sejarah yang Tidak Boleh Dipotong

Narasi Iran sebagai sekutu Israel juga mengabaikan fakta sejarah paling mendasar. Hubungan Iran dengan Israel memang pernah dekat, tetapi itu terjadi pada masa monarki di bawah Mohammad Reza Pahlavi.

Segalanya berubah setelah Revolusi Iran 1979 yang dipimpin Ruhollah Khomeini. Iran memutus hubungan diplomatik dengan Israel, menutup kedutaan, dan menjadikan dukungan terhadap Palestina sebagai bagian dari ideologi negara.

Sejak saat itu, kedua negara justru menjadi rival strategis baik secara militer, politik, maupun intelijen. Mengabaikan perubahan ini berarti membaca sejarah secara selektif.

 Otoritas Populer vs Akurasi Fakta

Tokoh publik memiliki hak untuk berpendapat. Namun semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya. Ketika figur dengan jutaan pengikut menyampaikan analisis tanpa basis data kuat, dampaknya bukan sekadar debat akademik melainkan pembentukan persepsi massal.

Publik awam cenderung menerima pernyataan tersebut sebagai kebenaran, terutama jika disampaikan dengan retorika meyakinkan. Di era algoritma media sosial, narasi emosional jauh lebih cepat menyebar dibanding analisis rasional.

Popularitas akhirnya menggantikan verifikasi.

 “Cocoklogi” sebagai Komoditas
Mengaitkan peristiwa politik dengan tanda kiamat bukan fenomena baru, tetapi kini berkembang menjadi industri konten. Setiap konflik global dapat diubah menjadi “tanda akhir zaman” yang dramatis dan mudah viral.

Padahal ulama klasik menegaskan bahwa perkara gaib tidak boleh dijadikan dasar penilaian politik praktis. Mengubah nubuat menjadi propaganda justru mereduksi nilai spiritualnya.

Lebih berbahaya lagi, narasi ini memecah belah umat. Alih-alih bersatu membela rakyat Palestina, publik justru sibuk saling mencurigai.

 Siapa yang Diuntungkan?

Ketika solidaritas melemah karena perpecahan internal, pihak yang menindas justru diuntungkan. Jika perhatian publik bergeser dari isu kemanusiaan ke polemik internal, tekanan internasional terhadap pelanggaran pun berkurang.

Propaganda paling efektif bukanlah yang memuji musuh, melainkan yang membuat lawan saling melemahkan.

Politik Adalah Kepentingan, Bukan Nubuat

Negara bertindak berdasarkan kepentingan strategis yaitu keamanan, ekonomi, pengaruh regional, dan stabilitas internal. Iran, Israel, Amerika Serikat, Rusia, dan negara lain bergerak dalam logika kekuasaan bukan ramalan eskatologis.

Memahami Timur Tengah membutuhkan analisis historis dan geopolitik, bukan sekadar tafsir simbolik terhadap teks agama.

 Kedewasaan Umat Dipertaruhkan

Tradisi intelektual Islam dibangun di atas verifikasi dan kehati-hatian. Ironis jika di era informasi justru kita terjebak pada narasi simplistik yang mengabaikan kompleksitas.

Mengkritik narasi populer bukan berarti membela negara tertentu. Ini soal menjaga agar agama tidak diperalat sebagai alat propaganda.

 Membuka Mata, Bukan Memecah Belah

Tulisan ini bukan serangan personal, melainkan ajakan untuk berpikir jernih. Publik berhak mendapatkan informasi yang akurat, bukan sekadar opini yang dikemas dramatis.

Palestina tidak membutuhkan lebih banyak teori konspirasi. Palestina membutuhkan solidaritas nyata, analisis yang matang, dan keberanian moral untuk berdiri di sisi kemanusiaan.

Musuh terbesar kebenaran bukanlah kebohongan yang terang-terangan, melainkan narasi setengah benar yang diulang terus-menerus hingga tampak seperti fakta.

Sejarah mengajarkan bahwa peradaban runtuh bukan hanya karena tekanan dari luar, tetapi juga karena kekeliruan berpikir dari dalam.