16 Maret 2026
Daerah

Aktivis HAM Diserang, Pengungkap Korupsi Tewas Dibunuh

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID 
Negeri ini kembali diguncang oleh rangkaian kekerasan terhadap mereka yang berani bersuara. Dua peristiwa tragis yang terjadi hampir bersamaan menimbulkan kekhawatiran publik tentang keselamatan para pembela hak asasi manusia dan pengungkap dugaan korupsi di Indonesia.

Aktivis HAM dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal pada Maret 2026 di Jakarta. Akibat serangan tersebut, ia mengalami luka bakar serius sekitar 24 persen di tubuhnya dan harus menjalani perawatan medis intensif. Banyak pihak menilai aksi brutal ini sebagai bentuk intimidasi terhadap kebebasan sipil serta upaya membungkam suara kritis para pembela HAM.

Di waktu yang hampir bersamaan, publik juga dikejutkan oleh pembunuhan Ermanto Usman, pensiunan pekerja Jakarta International Container Terminal (JICT) yang dikenal vokal mengungkap dugaan korupsi besar di sektor pelabuhan. Ia ditemukan tewas di rumahnya di Jatibening, Bekasi, setelah diserang dengan benda tumpul pada dini hari. Dalam peristiwa tersebut, istrinya juga menjadi korban dan mengalami luka serius.

Semasa hidupnya, Ermanto aktif menyuarakan dugaan kerugian negara dalam pengelolaan pelabuhan yang nilainya disebut-sebut mencapai triliunan rupiah. Ia kerap hadir di berbagai forum publik hingga podcast untuk mengangkat kembali kasus-kasus yang menurutnya belum diusut secara tuntas.

Dua peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: mengapa orang-orang yang memperjuangkan keadilan, mengungkap korupsi, dan membela hak asasi manusia justru menjadi sasaran kekerasan?

Publik berharap negara mampu menegakkan hukum secara transparan, mengusut pelaku hingga tuntas, serta memastikan tidak ada ruang bagi teror terhadap para pembela kemanusiaan, kebenaran, dan keadilan. Sebab ketika suara keadilan diserang, yang sebenarnya sedang diuji adalah keberanian sebuah bangsa untuk melindungi harkat dan martabat kemanusiaan, pungkas Danil Akbar. (Ary)