Hujan Deras Picu Banjir di Pidie Jaya, Warga Alue Keutapang Mulai Tinggalkan Rumah
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, sejak sore hingga Jumat malam (23/10), menyebabkan sejumlah wilayah mulai dilanda banjir. Kondisi tersebut membuat sebagian warga Gampong Alue Keutapang, Kecamatan Bandar Dua, mulai meninggalkan rumah untuk mencari tempat yang lebih tinggi demi menghindari ancaman kenaikan air.
Camat Bandar Dua, Saifuli, saat dikonfirmasi awak media pada Jumat malam, membenarkan bahwa banjir telah menggenangi dua gampong di wilayahnya. Kedua gampong tersebut adalah Alue Keutapang dan Babah Krueng.
“Informasi sementara, Gampong Alue Keutapang dan Gampong Babah Krueng sudah tergenang banjir,” kata Saifuli.
Sementara itu, laporan yang masuk melalui grup WhatsApp Posko Tanggap Darurat Bencana Pidie Jaya 2025 juga menyebutkan bahwa banjir mulai menggenangi Gampong Beurawang, Kecamatan Meureudu. Hujan deras yang berlangsung selama beberapa jam menyebabkan air meluap dan menggenangi sejumlah bagian wilayah gampong tersebut.
Genangan di Gampong Beurawang diduga berkaitan dengan tidak berfungsinya saluran pembuang air secara optimal. Akibatnya, ketika hujan turun, air dengan cepat menggenangi kawasan permukiman dan badan jalan. Dalam laporan kondisi terkini, air terlihat menggenangi bahu jalan setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Hingga Jumat malam, situasi banjir di sejumlah wilayah Pidie Jaya masih perlu diwaspadai, terutama jika hujan kembali turun dan debit air terus meningkat. Warga di kawasan rawan banjir diimbau tetap waspada, memantau perkembangan kondisi lingkungan, serta segera menuju tempat yang lebih aman apabila air mulai naik ke permukiman. Informasi mengenai luas genangan dan dampak banjir secara keseluruhan masih menunggu perkembangan lebih lanjut.
Kabupaten Pidie Jaya merupakan salah satu daerah rawan bencana yang membutuhkan upaya pencegahan dan kesiapsiagaan melalui mitigasi untuk mengurangi risiko serta dampak bencana. Koordinasi lintas sektor dengan melibatkan seluruh unsur dalam konsep pentahelix, yakni pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media, guna memperkuat upaya penanggulangan bencana secara terpadu dan efektif. (**)






