11 Februari 2026
Daerah
BANJIR PIDIE JAYA

Glee Ayon Diduga Digunduli, Krueng Inoeng Menjerit: Ancaman Banjir Mengintai Beuracan dan Pangwa

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDDeru mesin chainsaw kini menggantikan suara burung di kawasan Glee Ayon, pinggiran Krueng Inoeng Beuracan. Pohon-pohon besar di sekitar aliran Krueng Pinang dan Krueng Inoeng Beuracan, Kecamatan Meureudu, diduga ditebang nyaris tanpa jeda. Hutan yang seharusnya menjadi benteng terakhir dari amukan banjir kini berubah menjadi ladang pembantaian kayu, seolah tak ada hukum dan nurani yang menghalangi.

Penebangan itu terjadi tepat di bibir sungai, wilayah yang semestinya steril dari aktivitas brutal. Tanah yang sebelumnya kokoh kini merekah, akar-akar raksasa tercerabut, dan tebing sungai kian rapuh. Setiap pohon yang tumbang adalah undangan bagi bencana untuk datang. Kerusakan perlahan ini mungkin tak tampak hari ini, tetapi saat hujan besar turun, semuanya bisa berubah menjadi malapetaka dalam hitungan jam.

Warga Gampong Deah Pangwa dan Meucat Pangwa hanya bisa menatap hulu dengan cemas. Mereka tahu betul, jika hutan di Krueng Beuracan terus digunduli, maka banjir hanyalah soal waktu. Hutan adalah penyangga kehidupan, menyerap air, menahan tanah, dan meredam terjangan arus. Saat hutan dihabisi, sungai mengamuk, dan kampunglah yang menjadi korban.

“Dulu air paling naik sampai lutut. Sekarang baru hujan besar sebentar saja, kami sudah siap angkat barang,” ujar salah seorang petani kebun di Glee Ayon, kepada wartawan, Rabu (3/1).  Ia mengaku sering melihat truk pengangkut kayu keluar masuk kawasan tersebut, terutama pada malam hari. “Kalau ini dibiarkan, jangan tanya lagi kenapa banjir datang. Jawabannya ada di hutan yang sudah habis,” katanya dengan nada kesal.

Solusi tak bisa lagi sebatas wacana. Aparat penegak hukum harus segera turun menghentikan aktivitas penebangan, mengusut legalitasnya, dan menindak tegas pelaku. Pemerintah daerah wajib menetapkan kawasan sempadan sungai sebagai zona larangan mutlak. Reboisasi harus dimulai sekarang, bukan setelah bencana. Jika tidak, Meureudu dan Trienggadeng bukan hanya akan kehilangan hutannya, tetapi juga kehilangan kampung-kampungnya, dihanyutkan air yang selama ini ditantang oleh keserakahan. (**)