Di Antara Bata & Cinta: Rumah Tak Selalu Berdinding, Kadang Ia Berupa Rasa dan Kehangatan
Oleh : Syifa Nazhira
Mahasiswi Prodi Psikologi, UIN Ar-Raniry Banda Aceh
OPINI - Sering kali, definisi pulang bukan hanya ke sebuah bangunan kokoh yang di lengkapi dengan dinding beton, atap, dan perabotan lainnya, apalagi zaman sekarang banyak orang yang ingin punya rumah aesthetic. Tetapi makna rumah yang sebenarnya bukanlah dari besar bangunannya, seberapa aesthetic rumahnya, melainkan suasana yang diciptakan seperti orang tua tidak hanya fokus dengan gadget-nya, anak yang di ajak ngobrol atau quality time serta pelukan hangat yang mampu merangkul dan memberikan rasa aman dan nyaman.
Tangkapan layar lirik lagu “Rumah” oleh Salma Salsabil di Spotify.
Seperti pada lagu "Rumah" oleh Salma Salsabil dengan sepenggal lirik "Banyak tempat untuk kembali, meski tak senyaman di rumah sendiri," dari lirik tersebut saya melihat bahwa gambaran rumah sebenarnya bukanlah sekedar bangunan yang besar, tetapi rasa yang diciptakan dari dalam rumah tersebut. Namun, kenyataannya tidak semua orang memiliki rumah untuk pulang, terkadang rumah bagi mereka bisa saja seseorang yang bukan berasal dari keluarga kita atau sering disebut "hubungan tidak sedarah namun terasa seperti saudara kandung" melainkan seperti sahabat, pasangan, dan teman.
Dalam sudut pandang psikologi, teori kebutuhan Abraham Maslow menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan akan rasa aman dan cinta setelah kebutuhan fisiologisnya terpenuhi. Artinya, manusia pada dasarnya membutuhkan tempat untuk berteduh, tetapi setelah itu terpenuhi, ada kebutuhan yang lebih penting yaitu rasa aman dan cinta. Manusia berhak diterima, dipahami, dan dihargai akan kehadirannya. Bukan hanya sekedar berada dalam sebuah bangunan melainkan soal kedamaian jiwa yang bisa dirasakan secara psikologis.
Banyak berita yang saya lihat di media sosial, ketika seseorang sudah mulai dihadapi oleh banyak tekanan dan tuntutan pekerjaan maupun sosial, ia mencari tempat untuk beristirahat. Rumah yang seharusnya dijadikan tempat untuk pulang setelah lelah menjalani kehidupan dunia luar, malah menjadi tempat yang membuat pikiran semakin stres. Dari fenomena di atas menurut saya arti rumah yang sebenarnya yaitu tempat dimana kita bisa melepas topeng dan beban, kemudian disambut dengan hangat dan diterima apa adanya.
Sebagian orang yang tinggal di rumah yang mewah tapi sering merasa sendiri bahkan merasa tidak betah berada dalam rumah tersebut, sebaliknya ada yang tinggal di rumah sederhana tetapi kebutuhan akan rasa aman dan cinta nya terpenuhi dengan kehangatan yang diciptakan. Mungkin hal inilah yang menjadi alasan mengapa banyak orang merasa asing berada dalam bangunan yang megah, tidak peduli sekecil atau sebesar apapun bangunannya, kalau di dalamnya ada kehangatan, diterima, ada obrolan yang sehat, itu akan terasa jauh lebih mewah dari sekedar bangunan yang megah.






