Connie Bakrie dan Ketakutan yang Terus Diproduksi
Penulis : Arvindo Noviar (Ketua Umum PRABU)
OPINI - Ruang wacana strategis di Indonesia hari ini tidak kekurangan suara. Yang terlihat jelas adalah kelebihan suara yang ingin terus terdengar, bahkan ketika substansinya tidak berkembang sebanding dengan intensitas kemunculannya. Perhatian menjadi mata uang, dan suara menjadi alat untuk mempertahankannya. Kritik bergeser dari kebutuhan memperbaiki menuju kebutuhan untuk terus tampil dan tetap manggung di tengah arus perhatian yang semakin kompetitif.
Figur Connie Rahakundini Bakrie memperlihatkan pola yang konsisten dan tidak lagi bisa dianggap kebetulan. Ia berulang kali hadir dalam isu strategis dengan satu kecenderungan yang sama. Narasi resiko ditempatkan sebagai pusat analisis, potensi ancaman diperbesar, dan negara terus didorong ke arah kehati-hatian yang berlebihan. Pola ini berulang dan terus mendorong arah berpikir yang sama.
Dari pola yang berulang ini, arah sikapnya menjadi jelas. Oposisi genit tampil dengan menjual rasa takut sebagai analisis.
Oposisi dalam bentuk ini tidak berpijak pada arah ideologis yang jelas. Ia tidak menawarkan jalan alternatif yang utuh. Ia bergerak mengikuti ramainya isu, masuk pada setiap titik ketegangan, lalu menempatkan dirinya sebagai suara yang berbeda. Kritik beralih fungsi menjadi cara untuk tetap tampil dan terus manggung di ruang publik.
Yang diproduksi tidak berhenti pada analisis. Yang diproduksi adalah posisi. Posisi ini bekerja dengan satu mekanisme sederhana dan efektif: produksi ketakutan sebagai bahan bakar. Setiap isu strategis ditarik ke arah ancaman. Setiap peluang dibaca sebagai potensi bahaya. Setiap keterlibatan diposisikan sebagai pintu masuk kerentanan. Negara terus ditempatkan dalam situasi yang dianggap belum cukup aman untuk bertindak. Produksi ketakutan ini dibungkus dan disajikan sebagai kewaspadaan.
Pola ini membentuk cara pandang. Ketika terus berulang, pengaruhnya melampaui opini dan mulai membatasi cara negara melihat dan bertindak. Dunia dibingkai sebagai rangkaian jebakan yang harus dihindari dan diwaspadai. Ruang untuk bergerak dan mengambil posisi semakin menyempit. Dalam jangka panjang, dampaknya menembus jauh ke dalam arah kebijakan negara. Negara yang terus-menerus diarahkan pada rasa takut tidak akan pernah tumbuh menjadi negara besar yang bermartabat.
Pesimisme yang diproduksi secara massal oleh oposisi genit tidak boleh dibiarkan menjadi peta jalan. Negara membutuhkan keberanian untuk keluar dari lingkaran rasa takut yang terus diproduksi.
Sejak awal, pemerintahan Prabowo Subianto dibangun di atas keberanian mengelola resiko sebagai bagian dari strategi. Dunia diperlakukan sebagai peta kekuatan yang harus dibaca dan diintervensi secara sadar. Indonesia ditempatkan sebagai aktor yang aktif. Keterlibatan internasional dibuka dengan kendali. Kerja sama dinegosiasikan dengan kepentingan nasional sebagai poros. Pergeseran ini menghidupkan kembali kedaulatan sebagai praktik nyata. Pemerintahan saat ini keluar dari jebakan ketakutan dan mengambil kendali atas arah bangsa.
Oposisi genit bekerja tepat di wilayah ini. Ia tidak menyerang negara secara langsung dan secara perlahan melemahkan keberanian negara untuk mengambil posisi. Ia tidak menawarkan strategi tandingan, sementara produksi alasan untuk tidak bertindak terus berulang. Dalam jangka pendek, situasi ini terbaca sebagai kewaspadaan. Dalam jangka panjang, ia membentuk stagnasi yang disajikan sebagai kehati-hatian.
Pola semacam ini bukan hal baru dalam sejarah. Dalam fase-fase krusial perjuangan bangsa, selalu muncul kecenderungan yang mendorong untuk menahan langkah, menunda keputusan, dan melihat setiap gerakan sebagai resiko yang harus dihindari. Sikap seperti ini tidak pernah membawa bangsa melompat ke depan. Ia hanya memperpanjang keraguan dan memperlambat momentum perubahan.
Indonesia berada di tengah arus kekuatan global yang terus bergerak. Tekanan dan peluang melintasi kawasan ini dengan intensitas yang semakin tinggi. Negara tidak memiliki ruang untuk diam, sebab diam dalam situasi semacam ini adalah pengkhianatan terhadap cita-cita para pendiri bangsa. Keterlibatan harus terjadi dalam kendali penuh.
Sejak awal, pemerintahan Prabowo Subianto telah menyiapkan peta jalan untuk menghadapi perubahan zaman. Desain kebijakan diarahkan untuk menjaga kedaulatan sekaligus memastikan posisi Indonesia dalam konfigurasi global. Indonesia kini sedang bergerak menuju posisi sebagai kekuatan yang diperhitungkan.
Biarlah oposisi genit tenggelam pada pusaran pesimisme yang mereka produksi, sebagaimana kebijaksanaan di masa lalu mengajarkan kita tentang pepatah 'anjing menggonggong, kafilah berlalu.




.jpg)


