19 Juni 2026
Opini

Sunyi Bukan Damai Tapi Ancaman Kesehatan Mental

Oleh : Nurul Fitria Fajarna - Mahasiswa UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

OPINI - Ada sebuah paradoks yang jarang kita bicarakan tentang kesehatan mental: kesunyian, yang selama ini kita anggap sebagai pelarian dari kepenatan dunia, ternyata bisa menjadi sumber penderitaan tersendiri. Bagi sebagian orang, sunyi bukan sekadar absennya suara sunyi adalah arena tempat pikiran liar tak tertahan, dan di sanalah kesehatan mental mulai tergerogoti.

Kita hidup di era yang penuh kontradiksi. Di satu sisi, kita mengeluh tentang kebisingan dunia digital, notifikasi yang tak henti, percakapan yang melelahkan, tuntutan untuk selalu hadir dan terhubung. Namun di sisi lain, ketika keheningan itu akhirnya datang, banyak dari kita justru tak siap menerimanya. Kita panik. Kita merasa asing dengan diri sendiri.

Fenomena ini semakin nyata pasca pandemi. Jutaan orang mengalami isolasi yang dipaksakan, dan hasilnya bukan kedamaian, melainkan krisis kecemasan yang mengalir deras. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lonjakan signifikan kasus depresi dan gangguan kecemasan di seluruh dunia, sebagian besar dipicu oleh kesunyian yang berkepanjangan.

Menurut studi yang diterbitkan dalam The Lancet, prevalensi gangguan kecemasan global meningkat 26 persen dan depresi meningkat 28 persen pada tahun pertama pandemi, angka yang sebagian besar dikaitkan dengan isolasi sosial dan kesunyian paksa.

Tapi mengapa sunyi bisa seberbahaya itu? Jawabannya terletak pada cara otak kita bekerja. Ketika stimulus eksternal berkurang, default mode network — bagian otak yang aktif saat kita tidak sedang terfokus pada tugas tertentu mulai mengambil alih. Inilah yang oleh para psikolog disebut sebagai ruminasi: pikiran yang berputar-putar, membolak-balik kenangan menyakitkan, mengantisipasi ancaman yang belum tentu nyata.

Dalam budaya Indonesia, kita juga perlu jujur tentang bagaimana kita memahami sunyi. Nilai-nilai kolektivisme yang kuat membuat banyak dari kita terbiasa dengan keramaian keluarga besar, tetangga yang akrab, gotong royong. Namun modernisasi dan urbanisasi mengikis itu semua. Kini, jutaan orang tinggal di apartemen sempit, bekerja dari layar, dan menjalani hari tanpa satu pun percakapan bermakna.

Kesunyian yang mereka rasakan bukan pilihan — melainkan kondisi yang dipaksakan oleh perubahan struktur sosial. Dan dalam kesunyian itu, pikiran-pikiran gelap sering kali menemukan celah untuk masuk.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Pertama, kita perlu membedakan antara kesendirian yang menyehatkan dan isolasi yang merusak. Kesendirian yang kita pilih secara sadar untuk berefleksi, beristirahat, atau berkreasi berbeda secara fundamental dengan kesunyian yang hadir karena kita tak punya pilihan lain. Yang pertama memulihkan; yang kedua menghancurkan.

Kedua, kita perlu berhenti menjadikan kesibukan sebagai cara melarikan diri dari diri sendiri. Banyak orang memadati jadwal mereka bukan karena produktivitas, melainkan karena takut pada sunyi. Mereka takut pada apa yang akan mereka temukan jika akhirnya berdiam diri. Padahal, justru di situlah proses penyembuhan dimulai — dengan berani duduk bersama ketidaknyamanan kita sendiri.

Ketiga — dan ini yang paling penting — kita perlu menormalkan percakapan tentang kesehatan mental di tengah sunyi. Sudah terlalu lama kita menyangkal bahwa sunyi bisa menyakiti. Sudah terlalu lama kita menganggap bahwa mereka yang tampak tenang pasti baik-baik saja. Padahal, yang paling mengkhawatirkan justru mereka yang telah belajar untuk tersenyum di balik keheningan.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang berjuang dengan kesunyian yang menyiksa, pertimbangkan untuk menghubungi Into The Light Indonesia di 119 ext. 8 atau mencari bantuan profesional dari psikolog dan psikiater terdekat.

Sunyi tidak selalu indah. Kadang ia adalah tanda bahwa seseorang sedang tenggelam perlahan-lahan, dan tak seorang pun yang mendengar. Mari kita lebih peka. Mari kita tanya, dengan tulus: "Kamu baik-baik saja?" dan benar-benar mendengarkan jawabannya.