27 Maret 2026
Opini

Suhu Ekstrem Pasca-Banjir Bandang di Aceh, Saatnya Berpikir Risiko Bukan Sekadar Respons

Oleh: Fakhrurrazi, S.ST., M.Si - (Alumni Magister Ilmu Manajemen Kebencanaan Universitas Syiah Kuala) 

 
OPINI -
Prediksi suhu panas ekstrem oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada periode Maret hingga Mei 2026 seharusnya menjadi alarm serius bagi kita semua. Terlebih bagi Aceh, yang baru saja dilanda banjir bandang dahsyat, kondisi ini bukan sekadar perubahan cuaca biasa melainkan awal dari potensi bencana berlapis yang dapat berkembang secara sistemik. Sayangnya, dalam banyak kasus, kita masih terjebak pada pola pikir reaktif yakni sibuk menangani dampak setelah bencana terjadi, tetapi kurang serius dalam membaca risiko lanjutan yang justru lebih berbahaya.
 
Membaca Risiko, Bukan Menunggu Bencana
 
Pasca banjir, persoalan tidak selesai ketika air surut. Justru pada fase inilah berbagai potensi risiko mulai muncul secara perlahan namun pasti.
 
Pendangkalan sungai akibat sedimentasi menjadi salah satu masalah utama. Material lumpur, pasir, dan bebatuan yang terbawa banjir mengendap dan mengganggu aliran air. Dalam kondisi suhu ekstrem, hal ini berpotensi memicu kekeringan karena distribusi air ke sistem irigasi menjadi tidak optimal. Kekeringan bukan sekadar isu lingkungan, tetapi ancaman nyata bagi ketahanan pangan, ketika sawah tidak mendapatkan suplai air yang cukup, risiko gagal panen menjadi tidak terhindarkan.
 
Di sisi lain, suhu tinggi mempercepat pengeringan material organik yang tersisa pasca-banjir. Kayu dan vegetasi yang mengering berubah menjadi bahan bakar alami, sehingga potensi kebakaran, baik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) maupun kebakaran di pemukiman meningkat secara signifikan. Belum lagi ancaman kesehatan yang sering dianggap sepele, lumpur yang mengering akan berubah menjadi debu halus yang beterbangan, memicu peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, terutama pada kelompok rentan seperti balita, anak-anak, dan lansia.
 
Artinya, satu bencana telah membuka pintu bagi bencana lainnya.
 
Kesiapsiagaan, Dari Wacana ke Aksi
 
Dalam konteks ini, kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Kita tidak bisa menunggu hingga risiko menjadi kenyataan baru kemudian bertindak.
 
Penguatan kelembagaan menjadi langkah awal yang penting. Peran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) dan BPBD kabupaten/kota harus dioptimalkan dalam koordinasi lintas sektor, mulai dari mitigasi hingga respons darurat. Aktivasi Satuan Tugas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan ( Satgas  Darllkarhutla) hingga tingkat desa perlu dilakukan secara nyata, bukan sekadar administratif. Peran Manggala Agni juga sangat strategis dalam memberikan edukasi, patroli terpadu, serta pelatihan teknis kepada masyarakat untuk pencegahan kebakaran.
 
Di sektor sumber daya air, Balai Wilayah Sungai memiliki peran krusial dalam melakukan normalisasi sungai, pengerukan sedimentasi, serta memastikan fungsi jaringan irigasi tetap berjalan optimal pasca-banjir. Pemetaan wilayah rawan harus dilakukan secara kolaboratif, melibatkan pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat tanpa data yang akurat, penanganan hanya akan bersifat sporadis dan tidak efektif.
 
Pencegahan yang Sering Diabaikan
 
Salah satu kelemahan kita adalah kurangnya perhatian pada aspek pencegahan. Padahal, upaya preventif jauh lebih murah dan efektif dibandingkan penanganan saat bencana sudah terjadi.
 
Normalisasi sungai dan pengerukan sedimentasi oleh Balai Wilayah Sungai ( BWS) harus dipercepat untuk mengembalikan kapasitas tampung sungai. Dinas Pekerjaan Umum dan Pertanian perlu memastikan sistem irigasi mampu menghadapi potensi kekeringan. Dalam konteks kebakaran, patroli terpadu yang melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Manggala Agni, serta masyarakat menjadi sangat penting. Pembersihan material kering pasca-banjir harus segera dilakukan, disertai dengan penegakan larangan pembakaran terbuka.
 
Di sektor kesehatan, Kementerian Kesehatan bersama dinas kesehatan daerah harus mengantisipasi lonjakan kasus ISPA melalui  distribusi masker, serta edukasi masyarakat tentang cara melindungi diri dari paparan debu dan juga kasus iritasi mata.
 
Penanggulangan  Cepat, Tepat, dan Terkoordinasi
 
Ketika risiko mulai terjadi, kecepatan respons menjadi penentu utama. Distribusi air bersih harus segera dilakukan saat kekeringan mulai dirasakan, dengan dukungan lintas sektor termasuk pemerintah daerah dan relawan. Dalam situasi kebakaran, respons cepat melalui pemadaman terpadu yang melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, serta masyarakat peduli api menjadi kunci utama dalam mencegah meluasnya dampak.
 
Pada aspek kesehatan, fasilitas layanan kesehatan harus siap menangani peningkatan kasus penyakit berbasis lingkungan, dengan prioritas pada kelompok rentan. Namun, semua ini hanya akan efektif jika didukung oleh sistem yang terkoordinasi dengan baik dan komunikasi lintas sektor yang solid.
 
Solusi Berpikir Jangka Panjang
 
Kita tidak bisa terus-menerus berada dalam siklus bencana tanpa melakukan perbaikan sistemik. Pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) harus menjadi prioritas untuk mencegah banjir dan kekeringan secara bersamaan. Integrasi data dan sistem peringatan dini berbasis informasi dari BMKG juga harus diperkuat agar setiap potensi risiko dapat diantisipasi sejak dini.
 
Yang tidak kalah penting adalah membangun kesadaran masyarakat bahwa bencana bukan hanya urusan pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Masyarakat harus menjadi subjek dalam kesiapsiagaan—aktif menjaga lingkungan, tidak melakukan pembakaran lahan, serta terlibat dalam sistem peringatan dini berbasis komunitas. Selain itu, penegakan hukum terhadap perusakan lingkungan seperti penebangan pohon ilegal dan pertambangan tanpa izin harus ditegakkan secara tegas untuk mencegah terjadinya bencana serupa di masa depan.
 
Aceh hari ini sedang berada dalam fase krusial. Banjir telah berlalu, tetapi ancaman belum selesai. Kekeringan, kebakaran, dan gangguan kesehatan sudah menunggu di depan mata.
 
Kita tidak boleh lagi terjebak pada pola lama menunggu bencana datang baru kemudian bertindak. Saatnya beralih dari respons menuju kesiapsiagaan, dari reaktif menuju preventif, dan dari sektoral menuju terintegrasi. Karena pada akhirnya, bukan bencana yang menentukan besarnya dampak, tetapi seberapa siap kita menghadapinya.
 
Dan kita panjatkan pula doa agar dijauhkan dari bencana dan marabahaya:
“Allahumma inna na‘ūdzu bika min al-barashi wal-junūni wal-judzāmi wa min sayyi’il-asqām, wa na‘ūdzu bika min kulli balā’in wa wabā’, wa min fitnati al-mihani wal-balāyā.”
Semoga Allah SWT melindungi seluruh masyarakat, menjaga alam dari kerusakan, serta menjauhkan negeri ini dari segala bentuk bencana dan marabahaya.
“Ya Allah, lindungilah kami dan seluruh masyarakat dari segala bencana dan marabahaya. Berikanlah keselamatan bagi negeri kami, kesehatan bagi tubuh kami, serta jagalah lingkungan kami dari kerusakan. Jauhkan kami dari musibah yang tampak maupun yang tidak tampak, dan kuatkan kami dalam menghadapi setiap ujian.”
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.