Suasana Bak Medan Perang, Aksi Meriam Karbit Pante Garot Viral di Medsos
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Senja yang perlahan turun di Gampong Pante Garot, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie, berubah menjadi panggung atraksi yang tak biasa setiap hari raya.
Di tepi kali yang membelah gampong, deretan meriam rakitan berjajar rapi, dicat warna mencolok, sebagian bahkan dihias menyerupai simbol-simbol tertentu. Warga tumpah ruah, menciptakan suasana riuh yang sarat adrenalin dan tradisi.
Meriam-meriam itu bukan sekadar pajangan. Warga setempat merakitnya dari drum-drum besar yang disambung dan dilas hingga menyerupai laras meriam sungguhan. Konstruksi sederhana namun kokoh itu menjadi bukti kreativitas masyarakat dalam menghidupkan kembali permainan rakyat yang telah bertransformasi seiring perkembangan zaman.
Jika dahulu masyarakat Aceh mengenal meriam bambu sebagai permainan khas malam Lebaran, kini bentuknya telah berevolusi. Drum besi menggantikan bambu, sementara bahan bakarnya menggunakan karbit. Ketika disulut, ledakan yang dihasilkan menggelegar keras, mengguncang udara dan memantul di sepanjang aliran sungai, menghadirkan sensasi yang jauh lebih dramatis.
Dentuman demi dentuman terdengar bersahutan, menciptakan irama yang seolah menggambarkan “pertempuran”. Tak heran, warga setempat menyebut suasana itu mirip dengan gambaran perang di Timur Tengah. Visualisasi tersebut diperkuat dengan tata letak meriam yang saling berhadapan, seakan dua kubu sedang beradu kekuatan.
Ratusan warga memadati lokasi. Dari anak-anak yang tampak antusias, ibu-ibu yang menyaksikan sambil berbincang, hingga para pemuda yang terlibat langsung dalam pengoperasian meriam. Semua larut dalam euforia, menjadikan kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga ruang kebersamaan yang mempererat hubungan sosial.
Di balik gemuruh suara dan percikan api, tersimpan nilai budaya yang terus dijaga. Tradisi meriam karbit bukan hanya tentang adu kerasnya dentuman, tetapi juga tentang semangat gotong royong, mulai dari proses pembuatan hingga pelaksanaannya yang melibatkan banyak pihak dalam satu tujuan bersama.
Fenomena ini juga menarik perhatian warganet. Dari unggahan video yang beredar di media sosial, terlihat antusiasme publik yang tinggi. Dalam tayangan tersebut, tercatat sebanyak 1.544 tanda suka, 33 komentar, 83 penyimpanan, dan 76 kali dibagikan oleh pengguna, menunjukkan daya tarik tradisi lokal yang mampu menembus ruang digital.
Pada akhirnya, lomba meriam di Gampong Pante Gatot bukan sekadar hiburan malam Lebaran. Ia adalah cerminan bagaimana tradisi lama beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan ruhnya. Di antara dentuman yang menggema, terselip cerita tentang identitas, kebersamaan, dan kebanggaan masyarakat akan warisan budaya yang terus hidup. (TS)







