21 Februari 2026
Gampong
BANJIR PIDIE JAYA

Seteguk Kanji Rumbi & Bocah Lhe Boh Rumoh: Tradisi Hangat Penuh Tawa!

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -
Nuansa Ramadhan 1447 Hijriah mulai terasa hangat di Gampong Geunteng, Kecamatan Meurahdua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Di antara jejak lumpur yang belum sepenuhnya hilang dan rumah-rumah yang masih berbenah pasca banjir bandang tiga bulan silam, denyut kehidupan kembali bersemi. Warga menjemput bulan suci dengan cara yang sederhana, namun sarat makna, dengan menjaga tradisi yang diwariskan para pendahulu.

Banjir besar yang melanda sebagian wilayah Pidie Jaya sempat memporak-porandakan sendi kehidupan masyarakat. Namun, bagi warga Geunteng, musibah bukan alasan untuk memadamkan cahaya Ramadhan. Di meunasah gampong, asap tipis mengepul dari tungku besar, menjadi penanda bahwa tradisi memasak Kanji Rumbi kembali dihidupkan.

Seorang bilal meunasah dengan cekatan mengaduk bubur dalam kuali besar. Tangannya terlatih, gerakannya tenang, seolah menyatu dengan aroma rempah yang menyeruak ke udara. Kanji Rumbi bukan sekadar penganan berbuka, melainkan simbol kebersamaan dan keteguhan hati masyarakat Aceh dalam menjaga identitas budaya mereka.

Usai dimasak, suasana meunasah berubah riuh. Anak-anak hingga orang dewasa berdatangan membawa ceret dan wadah masing-masing. Mereka mengantre dengan tertib, menunggu giliran menampung Kanji Rumbi yang masih hangat. Senyum dan sapa hangat terjalin, menghapus sejenak kenangan getir bencana yang sempat mengguncang kampung mereka.

Di antara antrean itu, ada pula tingkah polos anak-anak yang membuat suasana semakin hangat. Beberapa di antaranya tampak “nakal” dengan harapan mendapat bagian lebih banyak. Salah seorang bocah dengan wajah lugu berseru kepada bilal, “Lon lhee boh rumoh,” katanya, mengaku mengambil untuk tiga rumah. Mendengar celoteh jenaka itu, sang bilal hanya tersenyum lebar dan tertawa kecil. Candaan sederhana tersebut seketika mencairkan suasana, menghadirkan tawa di tengah kesederhanaan Ramadhan yang mereka jalani.

Bagi masyarakat Aceh, berbuka puasa dengan seteguk Kanji Rumbi adalah kebiasaan turun-temurun. Sebelum menyantap nasi dan lauk lainnya, bubur gurih ini menjadi pembuka yang menenangkan perut setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Rasanya yang khas, perpaduan beras, rempah-rempah, udang, dan potongan daging, menghadirkan kehangatan yang tak hanya terasa di lidah, tetapi juga di hati.

Kanji Rumbi dikenal sebagai bubur bercita rasa unik khas Aceh, sekilas mirip bubur ayam yang lazim dijumpai di daerah lain di Indonesia. Namun, kekayaan rempah dan cara penyajiannya menjadikan Kanji Rumbi memiliki karakter tersendiri. Di setiap sendoknya, tersimpan cerita tentang gotong royong, tentang dapur yang menyatukan warga tanpa memandang latar belakang.

Keuchik Gampong Geunteng, Usman atau yang akrab disapa USM, menuturkan bahwa tradisi memasak Kanji Rumbi di meunasah menjadi bagian penting dalam menyambut Ramadhan. “Walaupun kami masih dalam masa pemulihan pasca banjir, semangat masyarakat untuk menjaga adat dan budaya tidak pernah surut. Ini cara kami menguatkan diri dan saling menguatkan,” ujarnya.

Ramadhan tahun ini mungkin datang dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh bagi warga Geunteng. Namun dari kuali besar Kanji Rumbi yang diaduk penuh kesabaran, tersirat pesan kuat, bahwa kebersamaan adalah obat paling mujarab. Di tengah keterbatasan, mereka memilih merawat tradisi, menyulam harapan, dan menjemput berkah dengan hati yang lapang. (**)