08 Mei 2026
Kampus

Mahasiswa STMIK Indonesia Hadirkan Lampu Tenaga Surya di Gampong Terpencil Pidie Jaya

Foto : Istimewa (Dok. STMIK Indonesia Banda Aceh) untuk publikasi. | LIPUTAN GAMPONG NEWS

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDWarga Gampong Lhok Sandeng, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh kini dapat menikmati penerangan jalan di sejumlah titik yang sebelumnya gelap gulita.

Puluhan lampu jalan bertenaga surya (lampu solar cell) dipasang oleh mahasiswa STMIK Indonesia Banda Aceh bersama masyarakat setempat sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabanjir dan penguatan kesiapsiagaan bencana di wilayah terpencil tersebut.

Program ini yang dikerjakan secara gotong royong ini menjadi bagian dari Program Mahasiswa Berdampak Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatera Tahun 2026.

Dengan didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Gampong Lhok Sandeng dikenal sebagai salah satu wilayah 3T (Tertinggal, Terluar, dan Terpencil) di Kabupaten Pidie Jaya. Kondisi minim penerangan semakin terasa saat banjir melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025 lalu.

Saat itu, akses jalan terganggu dan warga harus melakukan evakuasi dalam kondisi gelap, terutama di jalur menuju titik kumpul dan lokasi aman. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa STMIK Indonesia Banda Aceh memilih Lhok Sandeng sebagai lokasi pengabdian masyarakat.

Selama lebih dari dua bulan, puluhan mahasiswa dari tiga program studi turun langsung ke lapangan bersama warga memasang lampu jalan tenaga surya di titik-titik strategis gampong.

Kegiatan ini melibatkan dua kelompok masyarakat, yakni Kelompok Lhok Sandeng Jaya yang diketuai Hamdani dengan 29 anggota dan Kelompok Lhok Pineung yang dipimpin Muhammad Nadar dengan 27 anggota.

Kedua kelompok selama ini aktif membantu warga dalam kegiatan sosial dan penanganan bencana di desa tersebut.

Keuchik Gampong Lhok Sandeng, Mursalin, dikonfirmasi Liputan Gampong News, Jum'at (8/5) menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas program dari mahasiswa STIMIK Indonesia Banda Aceh.

Ia menyebut program tersebut menjadi pemenuham dari kebutuhan mendesak bagi masyarakat, khususnya untuk mendukung akses evakuasi saat kondisi darurat.

“Sebelumnya masih banyak area di gampong kami yang belum terjangkau penerangan, terutama jalur evakuasi dan jalan menuju tempat berkumpul warga. Dengan adanya lampu mandiri ini, akses masyarakat menjadi jauh lebih terbuka,” ujar Mursalin.

Kehadiran mahasiswa di gampong kami yang wilayah terpencil ini, tidak hanya membawa penerangan, tetapi juga menumbuhkan semangat gotong royong dan kesiapsiagaan warga dalam menghadapi bencana di masa mendatang." Pungkasnya.

Pemasangan lampu dilakukan secara gotong royong. Mahasiswa bersama warga menentukan titik pemasangan berdasarkan pemetaan jalur evakuasi dan lokasi rawan banjir. 

Pemilihan lampu tenaga surya juga dinilai tepat karena tidak bergantung pada jaringan listrik PLN yang sering terganggu saat banjir terjadi.

Selain memasang penerangan jalan, tim mahasiswa juga membangun sistem peringatan dini banjir, menyusun peta risiko bencana gampong, serta memberikan pelatihan kesiapsiagaan kepada masyarakat.

Ketua mahasiswa pelaksana, Ridho Mahara, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar pemasangan infrastruktur, tetapi juga membangun keterlibatan masyarakat agar mampu mengelola fasilitas secara mandiri.

“Kami tidak datang untuk bekerja sendiri. Semua proses dilakukan bersama warga. Karena itu, setiap fasilitas yang terpasang benar-benar menjadi milik bersama masyarakat,” katanya.

Ketua Kelompok Lhok Sandeng Jaya, Hamdani, mengaku selama ini kelompoknya sering mengalami kesulitan saat membantu warga ketika banjir datang karena keterbatasan penerangan dan koordinasi.

“Kami sudah terbiasa bergerak saat banjir, tapi bergerak dalam gelap sangat menyulitkan. Sekarang kami punya dukungan alat dan sistem yang lebih baik,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Ketua Kelompok Lhok Pineung, Muhammad Nadar. Menurutnya, keberadaan lampu jalan tenaga surya tidak hanya membantu saat kondisi darurat, tetapi juga mendukung aktivitas masyarakat sehari-hari.

“Banyak warga sebelumnya enggan keluar malam karena gelap. Sekarang akses antarwilayah gampong jauh lebih mudah,” katanya.Program tersebut berada di bawah koordinasi Muhammad Wali, ST., M.M. selaku ketua pelaksana, didampingi Abdus Salam, S.Kom., M.M. sebagai anggota tim dosen. Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari Ketua LPPM STMIK Indonesia Banda Aceh, Ulfah Irani Z, S.Pd., M.Pd., serta Ketua STMIK Indonesia Banda Aceh, Lukman Ahmad.

Seluruh fasilitas yang telah dipasang, mulai dari lampu jalan tenaga surya, sistem peringatan dini banjir, hingga perlengkapan evakuasi, diserahkan kepada Pemerintah Gampong Lhok Sandeng untuk dikelola bersama masyarakat secara berkelanjutan. (*)