Kenapa Mahasiswa Memilih Diam Saat Diskusi Padahal Punya Pendapat?
OPINI - Diskusi kelompok merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan akademik mahasiswa. Melalui diskusi, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, dan bekerja sama. Namun, tidak semua mahasiswa mampu berpartisipasi secara aktif dalam proses tersebut. Di berbagai ruang kelas, masih ditemukan mahasiswa yang memilih diam meskipun sebenarnya memiliki gagasan yang ingin disampaikan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa keberanian berbicara tidak selalu berjalan seiring dengan kemampuan memahami materi.Tidak sedikit orang yang sebenarnya memiliki pendapat, ide, atau jawaban yang ingin disampaikan, tetapi memilih untuk menahannya. Bukan karena tidak tahu, melainkan karena muncul berbagai pertimbangan dalam pikirannya. Ada rasa takut jika pendapat yang disampaikan ternyata salah. Ada kekhawatiran dianggap kurang memahami materi. Ada pula ketakutan akan penilaian orang lain yang membuat seseorang lebih memilih diam dari pada mengambil risiko berbicara.
Fenomena ini sering ditemukan dalam lingkungan pendidikan, khususnya pada mahasiswa. Di dalam kelompok diskusi, keberanian untuk berbicara tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang. Terkadang, faktor psikologis justru memiliki pengaruh yang lebih besar. Seseorang yang memahami materi dengan baik belum tentu berani menyampaikan pendapatnya. Sebaliknya, ada individu yang lebih percaya diri berbicara meskipun tidak selalu memiliki pemahaman yang lebih baik dibanding anggota kelompok lainnya.
Salah satu hal yang menarik adalah bagaimana keberadaan orang-orang yang dianggap lebih pintar dapat memengaruhi keberanian seseorang untuk berbicara. Ketika berada di tengah kelompok yang dipenuhi individu yang aktif dan terlihat menguasai materi, sebagian orang mulai mempertanyakan kemampuan dirinya sendiri. Mereka membandingkan apa yang ingin disampaikan dengan pendapat orang lain yang terdengar lebih meyakinkan. Akibatnya, pendapat yang awalnya ingin diungkapkan perlahan menghilang sebelum sempat disampaikan.
Tidak semua orang yang terlihat diam dalam diskusi sebenarnya tidak memiliki pendapat. Sebagian memilih untuk mengamati terlebih dahulu bagaimana dinamika kelompok yang sedang berlangsung. Mereka memperhatikan siapa yang berbicara, bagaimana respons anggota lain terhadap suatu pendapat, serta sejauh mana lingkungan tersebut memberikan ruang yang aman untuk berpartisipasi. Ketika suasana dirasa cukup nyaman, mereka akan lebih berani untuk ikut menyampaikan pandangan. Sebaliknya, apabila diskusi didominasi oleh beberapa orang atau terdapat kekhawatiran akan penilaian negatif, mereka cenderung memilih untuk tetap menjadi pendengar.
Padahal, diskusi seharusnya menjadi ruang untuk bertukar pemikiran, bukan ajang untuk menunjukkan siapa yang paling pintar. Sayangnya, tidak semua orang merasakan hal yang sama. Dalam beberapa situasi, suasana kelompok yang terlalu formal, dominasi anggota tertentu, atau kekhawatiran terhadap penilaian sosial dapat menciptakan jarak yang membuat sebagian anggota merasa tidak cukup nyaman untuk berbicara.
Kondisi tersebut sering kali memunculkan keraguan dalam diri individu. Menariknya, keraguan tidak selalu muncul karena seseorang tidak memahami materi yang dibahas, tetapi karena terlalu banyak mempertimbangkan kemungkinan yang belum tentu terjadi. Kekhawatiran dianggap salah, takut dinilai kurang pintar, atau takut pendapatnya tidak sesuai dengan harapan kelompok membuat seseorang memilih diam. Ironisnya, tidak sedikit yang kemudian menyadari bahwa pendapat yang mereka tahan sebenarnya relevan dengan pembahasan yang sedang berlangsung. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa hambatan terbesar sering kali bukan terletak pada kemampuan berpikir, melainkan pada keberanian untuk mempercayai bahwa pendapat yang dimiliki juga layak untuk didengar.
Rasa takut tersebut sering kali tidak berhenti ketika diskusi berakhir. Banyak orang masih mengingat kembali apa yang telah mereka katakan atau justru apa yang gagal mereka sampaikan. Tidak jarang muncul penyesalan karena menyadari bahwa pendapat yang ditahan ternyata relevan dengan pembahasan. Perasaan "seandainya tadi saya berbicara" menjadi pengalaman yang cukup umum, meskipun jarang dibahas secara terbuka.
Menurut saya, salah satu hambatan terbesar dalam diskusi bukanlah kurangnya kemampuan berbicara, melainkan keraguan terhadap diri sendiri. Terlalu sering seseorang menganggap pendapatnya tidak cukup baik sebelum memberi kesempatan kepada orang lain untuk mendengarkannya. Akibatnya, banyak ide yang sebenarnya berpotensi memperkaya diskusi justru berhenti di dalam pikiran pemiliknya.
Hal yang perlu disadari adalah bahwa keberanian berbicara tidak muncul secara tiba-tiba. Keberanian tumbuh melalui pengalaman, penerimaan, dan lingkungan yang mendukung. Seseorang akan lebih mudah menyampaikan pendapat ketika merasa bahwa dirinya tidak akan dihakimi hanya karena melakukan kesalahan. Sebaliknya, jika setiap pendapat selalu diukur dengan standar yang terlalu tinggi, maka rasa takut akan terus mengalahkan keinginan untuk berpartisipasi.
Karena itu, membangun budaya diskusi yang sehat menjadi tanggung jawab bersama. Diskusi yang baik bukanlah diskusi yang hanya diisi oleh beberapa suara yang paling dominan, tetapi diskusi yang mampu memberi ruang bagi setiap orang untuk menyampaikan pikirannya. Terkadang, pendapat yang paling berharga justru datang dari mereka yang selama ini lebih banyak diam.
Pada akhirnya, diam tidak selalu berarti tidak memiliki pendapat. Di balik keheningan seseorang, bisa jadi terdapat gagasan yang belum sempat disampaikan karena tertahan oleh rasa ragu. Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya mendengarkan mereka yang paling sering berbicara, tetapi juga memberi kesempatan kepada mereka yang masih mencari keberanian untuk menyuarakan pikirannya.
Oleh : Fitri Salsabila - Mahasiswa Psikologi, UIN AR-Raniry








