21 September 2026
Daerah

Jeritan Warga Huntara Korban Banjir Pidie Jaya Berharap Dapat Kembali Bekerja

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDBanjir telah surut, lumpur mungkin sudah mengering, namun air bah yang dahulu merendam rumah dan memaksa warga meninggalkan tempat tinggalnya perlahan menjadi kenangan. Namun, bagi sebagian korban banjir Pidie Jaya, bencana belum benar-benar berakhir, Senin (21/9).

Di huntara, kehidupan masih berjalan dengan segala keterbatasannya. Hari berganti hari, tetapi pertanyaan yang sama terus menghantui, setelah bencana, harus kemana dan bagaimana mencari nafkah?

Kegelisahan itu terekam dalam sebuah komentar seorang penghuni huntara di salah satu akun pemerintah Pidie Jaya, yang diketahui akun Dinas Sosial dan P3A Pidie Jaya. Kalimatnya sederhana, tetapi terasa seperti suara yang lama tertahan.

“Assalamualaikum Bapak, Pak sekali-kali tolong perhatikan kami yang tinggal di huntara depan kantor Bapak,” tulis warga tersebut.

Ia tidak sekadar meminta bantuan, namun Ia meminta Bupati datang, melihat dari dekat, mendengar cerita mereka dan bertanya bagaimana keadaan kehidupan warga yang masih bertahan di huntara.

“Pak, setelah kami banjir dan tinggal di huntara ini sampai sekarang, kami belum tahu mau kerja apa,” tulisnya.

Warga huntar meminta bapak bupati Pidie Jaya berkunjung serta melihat kondisi mereka yang saat ini tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa mengerjakan pekerjaan apapun, apa yang harus kami lakukan, tanya mereka?

Sekilas ada kegelisahan dalam kalimat itu dibenak mereka, sebab kehilangan akibat bencana bukan hanya kehilangan rumah, perabotan atau harta benda. Bagi sebagian warga huntara, banjir juga memutus rutinitas, pekerjaan dan sumber penghasilan yang selama ini menjadi sandaran keluarga.

Ironisnya, mereka mengaku bukan tidak memiliki kemampuan, namun mereka mengatakan memiliki skill, tetapi tidak tahu bagaimana memulainya kembali. Seperti seseorang yang memiliki tangan untuk bekerja, tetapi kehilangan jalan untuk memulai.

“Kami punya skill, tapi sampai sekarang kami belum tahu bagaimana caranya untuk memulainya,” ungkapnya. Kami disini bagai terisolir, Pak Bupati.” katanya.
Dikomentarnya, warga itu tidak menuntut dengan amarah, Ia justru menunggu, menunggu kedatangan seorang pejabat ke tempat mereka, melihat sendiri bagaimana hari-hari dijalani di huntara.

“Pak Bupati, kami tunggu kedatangan Bapak ke tempat kami,” tulisnya.

Dibalik dinding-dinding huntara itu, ada keluarga yang ingin kembali berdiri. Ada tangan-tangan yang ingin bekerja. Ada keterampilan yang ingin digunakan. Dan ada harapan sederhana, "jangan biarkan kami hanya menjadi orang-orang yang pernah menjadi korban banjir. Bantu kami agar bisa kembali menjadi orang-orang yang mampu menjalani hidup." (**)