19 Oktober 2026
Opini

Jabal Uhud, Saksi Bisu Perjuangan Rasulullah dan Pengorbanan Para Syuhada

Oleh: Rezha Muttaqin | Pelajar Ma’ad Rauhul Mudi Al-Aziziah Jeunieb | Musafir Tholabul Ilmi Mesir | Menjelajahi Jejak Sejarah Baginda Nabi Muhammad di Tanah Haramain, Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah.

OPINI - Di utara Kota Madinah Al-Munawwarah, sebuah gunung berdiri kokoh dengan bentangan batu kemerahan yang seolah menyimpan jutaan kisah dari masa silam. Itulah Jabal Uhud, gunung yang namanya tidak pernah terpisah dari perjalanan dakwah Rasulullah Muhammad. Di kawasan ini, sejarah pernah mencatat keberanian, kesetiaan, pengorbanan, sekaligus ujian berat yang dihadapi generasi pertama umat Islam. Bagi siapa pun yang menjejakkan kaki di hadapannya, Jabal Uhud bukan sekadar gugusan pegunungan yang membentang di cakrawala Madinah. Ia adalah saksi bisu Perang Uhud, pertempuran besar pada tahun ketiga Hijriah atau sekitar 625 Masehi, ketika kaum Muslimin menghadapi pasukan Quraisy Makkah dalam perjuangan mempertahankan agama dan komunitas yang baru tumbuh. Di balik ketenangan gunung itu hari ini, tersimpan pelajaran sejarah yang menggugah hati tentang iman, ketaatan, dan harga sebuah pengorbanan.

Kisah Jabal Uhud bermula dari luka kekalahan kaum Quraisy dalam Perang Badar pada tahun kedua Hijriah. Kekalahan tersebut mengguncang kedudukan mereka, terlebih setelah sejumlah tokoh penting Quraisy terbunuh dalam pertempuran. Keinginan untuk membalas kekalahan dan memulihkan kehormatan mendorong mereka mempersiapkan pasukan besar untuk bergerak menuju Madinah. Di bawah kepemimpinan Abu Sufyan bin Harb, pasukan Quraisy diperkirakan berjumlah sekitar 3.000 orang, didukung sekitar 200 ekor kuda dan 700 baju zirah menurut sejumlah catatan sirah. Mereka datang dengan persiapan militer yang jauh lebih besar dari pada kekuatan kaum Muslimin. Ancaman tersebut bukan hanya menyangkut keselamatan penduduk Madinah, tetapi juga keberlangsungan dakwah Islam yang saat itu terus berkembang menghadapi tekanan dari berbagai pihak.

Kabar kedatangan pasukan Quraisy membuat Rasulullah mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah. Di tengah keadaan yang genting, keputusan harus diambil dengan mempertimbangkan keselamatan umat dan strategi menghadapi musuh. Sebagian sahabat mengusulkan agar kaum Muslimin bertahan di dalam Madinah, sementara sebagian lainnya berpendapat bahwa pasukan harus keluar menghadapi Quraisy di medan terbuka. Setelah musyawarah, Rasulullah memutuskan bergerak menuju Uhud. Pasukan Muslimin pada awalnya berjumlah sekitar 1.000 orang. Namun, sebelum mencapai medan pertempuran, Abdullah bin Ubay bin Salul bersama sekitar 300 pengikutnya menarik diri dan kembali ke Madinah. Pasukan yang tetap melanjutkan perjalanan pun tinggal sekitar 700 orang. Dengan jumlah yang jauh lebih sedikit, kaum Muslimin harus menghadapi lawan yang memiliki keunggulan personel, kuda, dan perlengkapan perang.

Di kawasan Uhud, Rasulullah menyusun strategi pertahanan dengan memanfaatkan keadaan geografis di sekitar gunung. Salah satu keputusan paling penting adalah menempatkan 50 orang pemanah di atas bukit yang dikenal sebagai Jabal Rumat, atau Bukit Pemanah, yang dalam sejumlah riwayat juga dikaitkan dengan nama Ainayn. Mereka dipimpin oleh Abdullah bin Jubair Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Posisi ini memiliki arti strategis karena harus melindungi pasukan Muslimin dari kemungkinan serangan berkuda Quraisy melalui jalur belakang. Rasulullah  memerintahkan para pemanah agar tidak meninggalkan tempat mereka, apa pun yang terjadi di medan pertempuran. Bahkan apabila kaum Muslimin terlihat menang, mereka tetap harus bertahan sampai menerima perintah untuk turun. Perintah tersebut menjadi kunci bagi keseluruhan strategi pertahanan, sebab terbukanya posisi pemanah dapat memberikan kesempatan bagi musuh untuk mengepung pasukan Muslimin.

Ketika pertempuran pecah, kaum Muslimin bertempur dengan keberanian yang luar biasa. Pada fase awal, barisan Quraisy mulai terdesak dan sebagian pasukannya mundur. Bagi sejumlah pemanah yang menyaksikan keadaan itu dari atas bukit, situasi tersebut tampak seperti tanda kemenangan telah diraih. Sebagian dari mereka kemudian turun untuk mendekati medan pertempuran, dengan harapan memperoleh bagian dari harta rampasan perang. Abdullah bin Jubair dan beberapa pemanah lainnya tetap bertahan karena mengingat pesan tegas Rasulullah. Akan tetapi, berkurangnya penjagaan di bukit itu membuka celah yang sangat berbahaya. Khalid bin Walid, yang saat itu masih berada di pihak Quraisy, melihat kesempatan tersebut dan menggerakkan pasukan berkudanya untuk menyerang dari arah belakang. Serangan mendadak itu mengubah keadaan secara drastis. Barisan Muslimin menjadi kacau, tekanan datang dari berbagai arah, dan kemenangan yang semula tampak dekat berubah menjadi ujian yang sangat berat.

Di tengah kekacauan tersebut, kaum Muslimin kehilangan banyak sahabat yang telah mencurahkan hidup mereka untuk membela Islam. Salah satu nama yang paling dikenang adalah Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu, paman Rasulullah yang dikenal sebagai sosok pemberani dan salah satu pembela Islam yang tangguh. Hamzah gugur setelah terkena tombak Wahsyi bin Harb, yang ketika itu bertempur di pihak Quraisy. Kesyahidan Hamzah menjadi duka mendalam bagi Rasulullah  dan kaum Muslimin. Rasulullah sendiri mengalami luka dalam pertempuran, termasuk luka pada wajah dan kerusakan pada gigi seri beliau, sebagaimana diterangkan dalam riwayat hadis sahih. Para sahabat berusaha melindungi beliau ketika situasi semakin genting. Perang Uhud kemudian dikenang sebagai pertempuran yang merenggut sekitar 70 nyawa dari kalangan Muslimin. Di antara para syuhada itu terdapat sosok-sosok yang bukan hanya kehilangan nyawa, tetapi juga meninggalkan warisan keberanian dan kesetiaan yang terus hidup dalam ingatan umat Islam.

Namun, sejarah Uhud tidak berhenti pada kisah kekalahan taktis dan gugurnya para sahabat. Peristiwa ini juga mengandung pelajaran mendalam yang diabadikan dalam Al-Qur’an, terutama Surah Ali Imran ayat 121–175. Allah SWT menjelaskan berbagai ujian yang dialami kaum Muslimin, termasuk akibat perselisihan dan ketidaktaatan terhadap perintah Rasulullah. Dari peristiwa tersebut, umat Islam belajar bahwa keberhasilan tidak cukup ditopang oleh keberanian semata, tetapi juga membutuhkan kedisiplinan, kesabaran, persatuan, dan kesetiaan terhadap amanah. Meski mengalami pukulan berat, Rasulullah tidak menghentikan perjuangan dakwah. Beliau tetap menguatkan para sahabat dan membimbing umatnya untuk bangkit dari ujian. Uhud mengajarkan bahwa sebuah kemunduran tidak harus menjadi akhir perjalanan, selama kesalahan dijadikan bahan introspeksi dan semangat untuk menegakkan kebenaran tetap terpelihara.

Kini, ketika matahari menyinari bebatuan Jabal Uhud dan angin berembus melintasi kawasan bersejarah itu, jejak pertempuran masa lalu tetap menjadi bagian penting dari ingatan umat Islam. Di kaki gunung tersebut terdapat pemakaman para syuhada Uhud, tempat Hamzah bin Abdul Muthalib dan para sahabat yang gugur dalam pertempuran dimakamkan. Banyak peziarah datang untuk mengenang pengorbanan mereka sekaligus merenungkan makna perjuangan Rasulullah. Jabal Uhud seakan mengajarkan bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari kemenangan yang gemilang, tetapi juga dari keteguhan ketika menghadapi kehilangan dan kesulitan. Gunung ini akan terus menjadi pengingat bagi generasi demi generasi bahwa iman membutuhkan pengorbanan, amanah menuntut ketaatan, dan persatuan merupakan kekuatan yang tidak boleh diabaikan. Di hadapan Jabal Uhud, sejarah tidak sekadar diceritakan kembali, namun sejarah mengajak setiap jiwa untuk belajar, memperbaiki diri, dan meneruskan nilai-nilai perjuangan Rasulullah.