Guru SMAN Unggul Pidie Jaya Kembali Raih Juara Lomba Cerita Anak Dwibahasa 2026
Foto : Musrina, S.Pd, Guru SMAN Unggul Pidie Jaya duduk memikirkan inspirasi baru | LIPUTAN GAMPONG NEWS
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Prestasi membanggakan kembali diraih Misrina, S.Pd., guru SMAN Unggul Pidie Jaya, yang sukses menjadi salah satu pemenang Lomba Menulis Cerita Anak Dwibahasa Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Banda Aceh.
Ini menjadi kemenangan kedua secara berturut-turut setelah sebelumnya ia juga meraih prestasi serupa pada tahun 2025.
Pengumuman pemenang yang semula dijadwalkan pada 13 April 2026 mengalami penundaan karena alasan teknis, dan baru diumumkan secara resmi melalui akun Instagram Balai Bahasa Banda Aceh pada Sabtu, 18 April 2026.
Dihubungi LiputanGampongNews, Misrina yang akrab disapa Bu Mis mengaku bersyukur atas capaian tersebut. Ia mengirimkan dua karya cerita anak dalam lomba tahun ini, namun hanya satu yang berhasil terpilih sebagai pemenang.
“Alhamdulillah senang sekali bisa menulis dan dihargai. Mudah-mudahan senantiasa diberikan waktu dan pikiran yang tenang untuk selalu bisa berkontribusi, ya paling tidak menulis cerita anak,” ujarnya.
Lomba cerita anak dwibahasa ini tidak hanya menggunakan bahasa Aceh, tetapi juga mengangkat berbagai bahasa daerah lain di Aceh seperti bahasa Gayo, Jamee, Kluet, dan bahasa daerah lainnya.
“Banyak yang menang,” tambah Misrina yang juga merupakan anggota FAMe Pidie Jaya.
Ia menuturkan bahwa kecintaannya pada menulis cerita anak berawal dari kebiasaan/ hobi membaca. Kini, karya-karyanya tidak hanya diapresiasi, tetapi juga memperoleh royalti dari Balai Bahasa serta rencananya akan dibukukan.
“Itu untuk anak-anak kita, supaya mereka mau melestarikan bahasa Aceh dan bahasa lainnya di Aceh. Karena bahasa daerah di Aceh belum sepenuhnya normatif dalam bentuk tulisan,” jelas guru yang telah dikaruniai dua anak tersebut.
Misrina juga menceritakan kisah inspiratif dari keluarganya. Adiknya yang kini tinggal di Manchester, Inggris, tetap aktif mengikuti lomba menulis cerita anak dan mengirimkan karya dari luar negeri.
Ia berharap prestasi yang diraihnya dapat menjadi motivasi bagi para pelajar dan generasi muda untuk terus menulis dalam berbagai bentuk karya.
“Ya, mereka harus bisa menulis. Menulis apa saja, tidak hanya fiksi, cerita anak, cerpen, tetapi juga esai dan karya ilmiah,” pesannya.
Berdasarkan pengumuman Balai Bahasa Banda Aceh, Misrina meraih kemenangan melalui cerita berjudul “Geulumbong Ie Sabon” yang dalam bahasa Indonesia berarti “Balon Gelembung”.
Sementara itu, karya lain yang juga ikut dalam lomba di antaranya adalah karya Rahmawati berjudul “Pajoh Boh Drien” (Makan Durian) dan “Ratu Itam Mameh” (Ratu Hitam Manis).
Kontributor : _Edi Miswar_







