BANJIR PIDIE JAYA
Grek Hanyut, Dapur Nyaris Tak Mengepul, Jeritan Buruh Angkut di TPI Meureudu Pasca Banjir
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -
Rangka besi itu kini tergeletak sunyi di depan rumah warga Gampong Meunasah Balek, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Dari foto yang terlihat, satu-satunya kereta sorong (grek) pengangkut fiber ikan milik warga tampak rusak dan tak lagi layak pakai. Rodanya aus, rangkanya berkarat, dan kondisinya tak memungkinkan untuk kembali digunakan mengangkut beban berat di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Meureudu.
Bagi buruh angkut seperti Mahdar dan kawan-kawan, grek bukan sekadar alat, melainkan sumber penghidupan. Setiap hari, mereka mengandalkan kereta sorong besi itu untuk memindahkan fiber ikan dari kapal ikan ke darat. Tanpa grek, mereka tak bisa bekerja. Sejak banjir menerjang, sebagian besar alat kerja mereka hilang atau rusak terseret arus.
Saat ini, sedikitnya dibutuhkan lima unit kereta sorong (grek) baru untuk mengembalikan aktivitas puluhan pemuda Gampong Meunasah Balek yang menggantungkan hidup sebagai buruh angkut di TPI Meureudu. Sepuluh unit itu akan digunakan secara bergiliran oleh para pekerja yang selama ini tidak memiliki cadangan alat kerja.
Ketiadaan grek membuat dapur mereka nyaris tak lagi mengepul. Penghasilan harian yang biasanya cukup untuk membeli kebutuhan pokok kini terputus total. Mereka bukan meminta santunan konsumtif, melainkan bantuan alat kerja agar dapat kembali berdiri di atas kaki sendiri dan mencari nafkah secara mandiri.
Warga berharap perhatian dari pemerintah daerah, Pemerintah Aceh, khususnya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh, serta lembaga-lembaga kemanusiaan dan NGO untuk segera membantu pengadaan sepuluh unit kereta sorong tersebut. Bantuan sederhana ini diyakini mampu menggerakkan kembali roda ekonomi kecil di kampung yang terdampak banjir.
“Kalau ada sepuluh grek saja, kami sudah bisa kerja lagi. Kami tidak minta lebih, hanya ingin kembali ke TPI untuk mencari rezeki halal,” ujar salah seorang pemuda setempat. Di balik rangka besi yang kini terdiam itu, tersimpan harapan besar agar ada tangan-tangan dermawan yang tergerak membantu rakyat kecil bangkit dari lumpur bencana. (**)










