10 Mei 2026
Kesehatan

Dulu Suka, Sekarang Biasa Saja: Kenali Gejala Anhedonia

Foto : Dok. Google Image/Ilustrasi | LIPUTAN GAMPONG NEWS

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDTidak semua orang yang tidak bahagia terlihat murung atau selalu menangis. Banyak di antaranya justru tampak biasa saja, tetap bekerja, tersenyum, bahkan aktif di lingkungan sosial. Namun jika diperhatikan lebih dalam, ada sejumlah kebiasaan sehari-hari yang perlahan menunjukkan bahwa seseorang sebenarnya sedang kehilangan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidupnya.

Menariknya, kebiasaan sehari-hari ini sering muncul tanpa disadari, sehingga terlihat seperti hal biasa padahal menyimpan emosi yang belum terselesaikan. Coba cek apakah kamu pernah menemui tanda-tanda seperti yang dilansir Psychology Today, baik pada diri sendiri maupun orang di sekitarmu!

Salah satu tanda paling umum adalah perubahan pola tidur. Orang yang tidak bahagia biasanya sulit tidur di malam hari karena pikirannya terus bekerja. Mereka kerap overthinking, memikirkan masalah yang belum selesai, menyesali masa lalu, atau mencemaskan masa depan. Sebaliknya, ada juga yang justru tidur berlebihan sebagai bentuk pelarian dari tekanan hidup. Ketika bangun pagi, tubuh tetap terasa lelah meski waktu tidur cukup.

Kebiasaan lain yang sering muncul ialah mudah mengeluh terhadap hal-hal kecil. Mereka merasa hidup tidak adil, cepat kesal, dan sulit menikmati momen sederhana. Hal-hal yang dulu menyenangkan perlahan terasa hambar. Bahkan saat bersama teman atau keluarga, mereka tetap merasa kosong dan tidak benar-benar hadir secara emosional.

Orang yang tidak bahagia juga cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Mereka mulai jarang membalas pesan, malas keluar rumah, menolak ajakan berkumpul, atau lebih nyaman menyendiri terlalu lama. Dalam banyak kasus, mereka sebenarnya ingin dipahami, tetapi tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan isi hati. Akibatnya, mereka memilih diam dan memendam semuanya sendiri.

Dari sisi kebiasaan harian, kondisi emosional yang buruk sering terlihat dari pola hidup yang mulai berantakan. Kamar atau meja kerja menjadi tidak terurus, pola makan tidak teratur, mandi atau merawat diri terasa seperti beban, hingga kehilangan semangat melakukan aktivitas rutin. Hal sederhana seperti mencuci pakaian atau membersihkan rumah bisa terasa sangat berat bagi orang yang sedang tidak bahagia secara mental.

Selain itu, mereka biasanya kehilangan minat terhadap hal yang dulu disukai. Hobi, olahraga, musik, membaca, atau aktivitas favorit lainnya tidak lagi memberi rasa senang. Mereka menjalani hari hanya sebagai rutinitas tanpa antusiasme. Dalam psikologi, kondisi ini sering disebut sebagai “anhedonia”, yaitu hilangnya kemampuan menikmati sesuatu yang sebelumnya menyenangkan.

Di era digital, tanda lain juga terlihat dari kebiasaan menggunakan media sosial. Orang yang tidak bahagia sering melakukan doomscrolling, yakni terus menerus melihat berita negatif atau membandingkan hidupnya dengan orang lain di media sosial. Mereka terlihat aktif online, tetapi sebenarnya merasa semakin kesepian. Tidak sedikit pula yang terlalu sering mengunggah sesuatu demi mencari validasi atau perhatian karena merasa kurang dihargai di dunia nyata.

Secara emosional, mereka juga lebih sensitif dan mudah tersinggung. Hal kecil bisa memicu amarah atau kesedihan yang berlebihan. Namun ada pula tipe yang justru menjadi sangat dingin dan sulit mengekspresikan emosi. Mereka tertawa seperlunya, berbicara seperlunya, dan tampak seperti kehilangan semangat hidup sedikit demi sedikit.

Menariknya, banyak orang yang tidak bahagia berusaha menutupi kondisinya dengan terlihat kuat dan ceria. Mereka tetap tersenyum di depan orang lain, bercanda, bahkan menjadi penghibur dalam pergaulan. Namun ketika sendirian, mereka merasa hampa, cemas, dan kelelahan secara mental. Karena itu, tidak semua luka emosional bisa dilihat secara langsung.

Psikolog menyebut kebahagiaan bukan hanya soal uang atau kesuksesan, tetapi tentang rasa tenang, dihargai, memiliki tujuan hidup, dan hubungan emosional yang sehat. Ketika seseorang kehilangan hal-hal tersebut dalam waktu lama, kebiasaan sehari-harinya perlahan ikut berubah. Karena itu, penting untuk lebih peka terhadap diri sendiri maupun orang di sekitar, sebab terkadang seseorang hanya membutuhkan didengar, dipahami, dan ditemani agar tidak merasa sendirian menghadapi hidup. (**)