18 Mei 2026
Gampong
Potret Kemiskinan Subulussalam

Di Rumah Lapuk Peninggalan Orang Tua, Hidup Munte Bertahan Membesarkan Dua Anak

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDDi sebuah Desa Buluh Dori Kilometer 9, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, berdiri sebuah rumah kayu tua yang nyaris roboh dimakan usia. Dindingnya mulai lapuk, atapnya berlubang, dan tiang-tiang penyangga tampak miring menahan beban bangunan yang sudah renta. Di rumah sederhana itulah Hidup Munte bersama istri dan dua anaknya bertahan menjalani kehidupan penuh keterbatasan.


Minggu, 17 Mei 2026, awak media liputangampongnews.id mendatangi kediaman Hidup Munte. Suasana rumah tampak sunyi dan memprihatinkan. Papan-papan kayu yang kusam menjadi saksi perjuangan keluarga kecil itu menghadapi kerasnya hidup. Meski kondisi rumah jauh dari kata layak, mereka tetap memilih bertahan karena tidak memiliki tempat lain untuk berlindung.

Hidup Munte bukan hanya hidup dalam kemiskinan, tetapi juga memikul kisah pilu sejak kecil. Ia bersama tiga bersaudara telah kehilangan ayah dan ibu mereka sejak usia dini. Menjadi anak yatim piatu membuat perjalanan hidupnya penuh perjuangan. Rumah yang kini ditempatinya merupakan peninggalan almarhum orang tuanya, satu-satunya warisan yang tersisa untuk bertahan hidup.

Namun waktu terus menggerus bangunan itu. Kayu-kayu rumah mulai rapuh, lantai terlihat rusak di beberapa bagian, sementara bagian atap tampak tidak lagi mampu melindungi penghuni dari hujan dan panas. Kondisi tersebut membuat rumah itu dinilai sudah tidak layak huni dan membahayakan keselamatan keluarga yang tinggal di dalamnya.

Dengan suara bergetar, Hidup Munte mengaku tidak memiliki pilihan lain selain tetap tinggal di rumah tersebut. “Saya sekarang tinggal di rumah orang tua saya yang sudah tidak layak huni. Tapi kami mau ke mana lagi, tidak ada tempat lain,” ucapnya penuh harap saat ditemui awak media.

Di tengah keterbatasan ekonomi, Hidup Munte tetap berusaha menjadi kepala keluarga bagi istri dan kedua anaknya. Ia berharap ada perhatian dari pemerintah maupun instansi terkait agar keluarganya bisa mendapatkan bantuan rumah layak huni. Baginya, memiliki tempat tinggal yang aman sudah menjadi impian besar yang selama ini belum tercapai.

Kisah Hidup Munte menjadi potret nyata masih adanya warga kecil yang hidup dalam kesusahan di tengah perkembangan daerah. Di balik dinding kayu lapuk itu, tersimpan harapan sederhana sebuah keluarga yang ingin hidup lebih layak. Mereka tidak meminta kemewahan, hanya ingin memiliki rumah yang aman untuk berteduh dan membesarkan anak-anak mereka. (Bolon Maha