11 Februari 2026
Daerah
BANJIR PIDIE JAYA

Bantuan Hanya Mengalir ke yang Viral: Derita Warga Pinggiran Pidie Jaya Tak Tersentuh

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID Derasnya air bah yang melanda Kabupaten Pidie Jaya pada akhir November 2025 serta banjir susulan beberapa hari terakhir meninggalkan luka mendalam bagi ribuan warga di berbagai wilayah. Bencana hidrometeorologi ini tidak hanya memporak-porandakan ibukota kabupaten, tetapi juga merendam banyak gampong di kecamatan lain yang jarang tersorot.

Di tengah situasi sulit tersebut, ada rasa syukur dari para penyintas di Meureudu dan Meurah Dua yang terus mendapatkan aliran bantuan logistik dari berbagai pihak. Kedua kecamatan ini memang menjadi pusat perhatian karena kerusakan yang terjadi sangat besar, terutama di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Meureudu yang hancur nyaris total.

Namun di balik ramainya bantuan yang masuk ke wilayah ibukota, tersimpan ironi di sejumlah kecamatan lain: Panteraja, Trienggadeng, Ulim, dan Bandar Dua. Di tempat-tempat ini, banyak gampong yang juga terendam parah, warganya kehilangan rumah, harta benda, dan mata pencaharian. Bedanya, mereka tidak viral, tidak memiliki akses ke tokoh tertentu, sehingga tidak menjadi prioritas bantuan.

Sejumlah warga mengungkapkan ada gampong yang menerima bantuan karena memiliki kedekatan dengan pejabat atau dermawan. Sementara gampong lain yang sama-sama terdampak berat justru menunggu tanpa kepastian, meski warganya tidur di lantai-lantai basah dan bertahan dengan persediaan yang sangat terbatas.

Ironi lain muncul ketika bantuan pemerintah daerah berhasil menjangkau beberapa titik, namun jumlahnya minim. Bahkan, ada pemerintah gampong yang menahan sebagian bantuan dengan alasan tidak cukup untuk dibagikan secara merata kepada seluruh warga.

Di tengah kondisi seperti ini, warga di luar dua kecamatan utama berharap para dermawan dan instansi terkait dapat melihat bahwa penderitaan mereka tidak kalah berat. Mereka tidak meminta lebih, tidak mengemis, dan tidak menuntut istimewa — mereka hanya ingin kembali hidup normal, bekerja, dan bangkit tanpa harus menunggu panjangnya antrean bantuan.

“Segala pemberian para dermawan tak sanggup kami balas,” ujar seorang warga. “Hanya Allah Yang Maha Kuasa yang mampu membalas kebaikan mereka.”

Di medan bencana yang luas ini, solidaritas menjadi cahaya kecil yang menjaga harapan tetap menyala. Namun selama bantuan belum mengalir merata, ironi banjir Pidie Jaya akan terus menjadi cerita yang menggenang lebih lama daripada airnya. (**)