Potret Chronic Procrastination Mahasiswa di Era Digital
Oleh : Badriansyah Gunawan - Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh
OPINI - Banyak mahasiswa yang melakukan ritual pemanasan sebelum ingin mengerjakan tugas, yaitu scroll media sosial, niatnya cuma beberapa menit saja, akan tetapi kebablasan tidak mengingat waktu dan akhirnya ketiduran, sehingga mengerjakan tugas hanya sebagai wacana belaka. Padahal, tugasnya dikumpulkan pada keesokan harinya, dan tugas tersebut penting karena menjadi penentuan nilai salah satu mata kuliah yang diambil pada semester tersebut. Akibatnya, tugas tidak terkumpul, tidak mendapatkan nilai, yang tersisa hanya rasa penyesalan yang hanya di dalam hati akibat tidak mengerjakan tugas tersebut.
Memang, menunda-nunda adalah hal yang manusiawi. Namun, ada beberapa kondisi menunda-nunda yang dianggap menjadi kebiasaan yang wajar oleh banyak orang, akan perlahan-lahan mengakar pada kehidupan, yang membuat apa pun tugas atau pekerjaan yang ingin dilakukan, pasti akan menunda-nunda untuk mengerjakannya. Dalam psikologi, kondisi ini disebut dengan "Chronic Procrastination". Menurut Ferrari & Díaz-Morales (2014), chronic procrastination adalah perilaku yang menunda-nunda secara disengaja dan juga berulang dalam ingin memulai dan menyelesaikan suatu hal hingga mengalami titik ketidaknyamanan secara subjektif.
Lalu, mengapa mahasiswa harus menjadikan media sosial?, Sebetulnya bukan karena ketidaksadaran, akan tetapi media sosial seperti TikTok, Twitter, dan juga Instagram yang memang tidak dirancang untuk menghibur diri, akan menyebabkan kelalaian apabila dilakukan secara berlebihan. Dan juga beberapa fitur aplikasi seperti fitur infinite scroll, yang membuat seseorang bisa men-scroll aplikasi tersebut secara sebebasnya tanpa batas. Lalu video yang ditampilkan berdurasi sekitar 1 menit yang membuat seseorang berpikir "satu lagi ah, tanggung" yang membuat banyak mahasiswa sering menunda pekerjaan mereka. Dan juga ada fitur For You Page (FYP), sebuah algoritma yang mempelajari tontonan yang sering diputar dan diulang, dan disajikan konten-konten yang mirip pada video selanjutnya.
Fenomena tersebut dibahas juga oleh Steel (2007) lewat Temporal Motivation Theory, yaitu menjelaskan bahwa Chronic Procrastination akan makin buruk ketika suatu hal lebih mudah untuk diakses dan dijangkau, sehingga membuat mahasiswa menjadi ketagihan, dan muncul kemungkinan untuk mahasiswa menunda bahkan tidak kembali mengerjakan tugasnya. Jika kondisi tersebut dibiarkan begitu saja, hal tersebut bisa saja berlanjut lebih buruk, atau bisa mengarah ke ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).
Kondisi tersebut membuat fokus mahasiswa menjadi terganggu. Akan tetapi, hal tersebut masih bisa diatasi oleh diri sendiri. Salah satunya menurut Gollwitzer (1999), prokrastinasi tingkat rendah bisa diatasi dengan mengikuti teori Implementation Intentions, yaitu membuat rencana spesifik dengan rumus "Jika-Maka" (If-Then), contohnya "Ketika saya menghadapi situasi tertentu, saya akan melakukan tindakan yang telah saya tentukan sebelumnya". Selain itu, cara sederhana juga bisa mengurangi prokrastinasi di dalam diri kita, seperti menjauhkan handphone ketika sedang mengerjakan tugas, mulai tugas dari hal yang kecil dahulu, mengatur strategi mengerjakan tugas, ataupun kegiatan lainnya. Akan tetapi, jika sudah terlalu parah, disarankan untuk berkonsultasi kepada psikolog atau psikiater bagaimana cara mengatasi prokrastinasi Anda.
Pada akhirnya, prokrastinasi bukanlah sebuah kebiasaan yang bisa dimaklumi, akan tetapi hal tersebut menjadi sebuah kondisi yang memperlambat kinerja mahasiswa itu sendiri, setiap tugas yang ditunda menjadi bukti bahwa banyak hal yang kita lewati secara sia-sia. Mulailah untuk merencanakan dari hal yang kecil, agar pekerjaan tidak ditunda dan langsung dikerjakan. Hal tersebut karena waktu yang terbuang tidak akan pernah bisa dikembalikan.








