22 Juni 2026
Opini

Menuntut Kerja Nyata, Bukan Drama: Pijay Butuh Eksekusi, Bukan Seremonial

Oleh : Dr. Safwan, M. Ag..Ketua KNPI Pijay 2008-2013

OPINI - ​Pidie Jaya (Pijay) tidak kekurangan orang pintar, tetapi tampaknya sedang krisis pemimpin yang mau bekerja dalam senyap demi kesejahteraan rakyat. Sudah rahasia umum bahwa gaya kepemimpinan hari ini terlalu sering dihiasi oleh selebrasi di depan kamera, gunting pita, rapat-rapat formalitas, dan rangkaian kegiatan seremonial yang miskin substansi.

​Rakyat tidak butuh tontonan, rakyat butuh terobosan.
​Panggung Sandiwara di Atas Masalah Nyata
​Ketika angka kemiskinan, pengangguran, dan lambatnya pertumbuhan ekonomi daerah masih menjadi pekerjaan rumah yang menumpuk, sangat tidak etis jika ruang publik justru dipenuhi oleh "drama" politik dan pencitraan.

​Anggaran Habis untuk Seremoni: Berapa banyak seremonial yang diadakan hanya untuk memuaskan ego birokrasi, sementara sektor riil seperti pertanian, infrastruktur pelosok, dan pemberdayaan UMKM kekurangan perhatian?
​Miskin Dampak Sistemik: Kebijakan yang lahir seringkali hanya bersifat instan—terlihat bagus di media sosial, namun hambar dalam jangka panjang.

​Catatan Kritis: Pemimpin yang sibuk bersandiwara biasanya sedang menutupi ketidakmampuannya dalam mengeksekusi program kerja. Kamera menyala, program jalan; kamera mati, pembangunan mandek.

​Perubahan Paradigma: Dari Pencitraan ke Pelayanan
​Masyarakat Pijay sudah semakin cerdas dan lelah dengan janji-janji manis berselimut estetika protokoler. Yang dibutuhkan hari ini adalah pemimpin lapangan, bukan pemimpin salon yang takut peluh.

Gaya Lama (Seremonial & Drama) Gaya Baru (Solutif & Eksekutif)
Fokus pada output visual (Foto, Baliho, Berita Acara).Fokus pada outcome nyata (Penurunan angka kemiskinan, lapangan kerja).

Responsif hanya saat isu menjadi viral (Pemadam kebakaran).Antisipatif dan memiliki cetak biru (blueprint) pembangunan yang jelas.

Menghabiskan energi untuk retorika dan konflik internal.Menghabiskan energi untuk mengetuk pintu pusat demi anggaran daerah.

Dengan Demikian harus Turun dari Panggung, Masuk ke Pasar dan Sawah!
​Sudah saatnya para pemangku kebijakan di Pidie Jaya menyadari bahwa jabatan bukanlah panggung teater untuk mendulang tepuk tangan. Evaluasi kinerja harus diukur dari seberapa besar perubahan nasib masyarakat di akar rumput, bukan dari seberapa megah acara seremonial yang sukses digelar.
​Jika Pijay ingin melompat maju, hentikan dramanya, pangkas seremoninya, dan mulai kerja nyatanya!