Plot Twist Menjadi Dewasa: Belajar Hidup Setelah Kehilangan
Oleh: Zahra Adinda - Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh
OPINI - etika masih kecil, bayangan saya tentang kehidupan dewasa terasa begitu sederhana. Dewasa berarti lulus sekolah, melanjutkan kuliah, mendapatkan pekerjaan, lalu menjalani hidup sebagaimana mestinya. Saat itu saya berpikir tidak ada yang perlu terlalu dicemaskan, karena selalu ada ibu sebagai tempat pulang, tempat bercerita, dan tempat menemukan ketenangan.
Namun, hidup ternyata tidak selalu mengikuti skenario yang kita susun dalam pikiran. Kehilangan ibu menjadi salah satu plot twist terbesar dalam perjalanan hidup saya menuju kedewasaan. Sejak saat itu, rasanya hidup tetap berjalan, tetapi saya tidak benar-benar bertumbuh. Saya mengira waktu akan menyembuhkan semuanya dan saya hanya perlu melewati fase berat tersebut.
Nyatanya, ketika menjadi mahasiswa pun saya masih hidup berdampingan dengan kehilangan. Sebagai mahasiswa Psikologi, saya mulai memahami pengalaman ini melalui teori grief atau proses berduka. Proses tersebut umumnya dimulai dari penolakan (denial), kemudian kemarahan, tawar-menawar, kesedihan, hingga penerimaan. Dalam perjalanan saya sendiri, saya menyadari bahwa saya sering terjebak di antara fase kesedihan dan penerimaan.
Dari situ saya memahami bahwa kehilangan bukanlah luka yang benar-benar selesai. Ia menjadi bagian dari diri yang akan terus ada. Kesedihan dan penerimaan bukan dua titik akhir yang terpisah, melainkan dua fase yang bisa datang silih berganti. Ada hari-hari ketika saya mampu menerima kenyataan dengan lapang, tetapi di hari lain saya kembali tenggelam dalam kesedihan yang sama. Saya terus berputar di antara keduanya.
Kesadaran itulah yang kemudian mengajarkan saya untuk mulai menyusun kehidupan berdampingan dengan duka. Saya belajar mengambil keputusan sendiri, mencari cara untuk tidak terjebak di masa lalu, serta menghadapi berbagai momen penting dengan ruang kosong yang tidak lagi bisa diisi oleh kehadiran ibu. Hingga hari ini, saya masih merasa bersalah setiap kali usia saya bertambah, karena hari ulang tahun saya jatuh tepat sepuluh hari setelah hari wafat ibu. Meski demikian, saya terus berusaha kembali kepada fase penerimaan setiap kali kesedihan datang menghampiri.
Sering kali lingkungan menuntut seseorang untuk segera move on dari kehilangan. Padahal, proses berduka bukanlah perlombaan dengan garis akhir yang sama bagi setiap orang. Tetap menjalani hidup sambil menyimpan kerinduan bukan berarti gagal menerima kenyataan. Justru di situlah bentuk kesadaran paling nyata terhadap kehilangan. Banyak orang menemukan cara untuk terus melangkah sambil tetap menghormati hubungan dan kenangan yang pernah mereka miliki.
Bagi saya, inilah plot twist sesungguhnya dari menjadi dewasa. Kedewasaan bukan tentang hidup yang selalu berjalan sesuai rencana, melainkan tentang kemampuan beradaptasi ketika kenyataan berubah. Kehilangan ibu menjadi bagian paling berat dalam hidup saya, tetapi juga menjadi bagian penting dari proses bertumbuh. Bukan karena dukanya telah hilang, melainkan karena saya belajar menjalani hidup sambil membawa kenangan, kerinduan, dan makna yang ditinggalkannya. Sampai hari ini masih ada momen-momen ketika saya berharap dapat bercerita kepada ibu tentang hal-hal sederhana. Tentang tugas kuliah yang berhasil saya selesaikan, pencapaian kecil yang saya raih, atau hari-hari yang terasa begitu berat. Kerinduan itu tidak pernah benar-benar hilang.
Namun perlahan saya belajar bahwa cinta tidak berakhir ketika seseorang meninggal dunia. Cinta tetap hidup dalam kenangan, dalam kebiasaan yang diwariskan, dan dalam cara saya menjalani kehidupan. Mungkin saya tidak lagi memiliki tempat untuk pulang secara fisik, tetapi saya masih membawa rumah itu di dalam hati ke mana pun saya pergi.
Jika dulu saya mengira plot twist terbesar dalam hidup adalah kehilangan ibu, kini saya menyadari bahwa plot twist yang sesungguhnya adalah belajar hidup setelah kehilangan itu terjadi. Saya tidak tumbuh dewasa dengan cara yang saya bayangkan ketika kecil. Namun, saya tetap bertumbuh melalui setiap kerinduan, air mata, dan usaha untuk bangkit kembali.
Pada akhirnya, kehilangan ibu bukanlah bab yang selesai begitu saja. Ia menjadi bagian dari cerita yang terus saya bawa sepanjang perjalanan hidup. Dan mungkin, tumbuh dewasa memang bukan tentang melupakan apa yang hilang, melainkan belajar berjalan sambil membawa apa yang tidak lagi bisa kita miliki.









